Ratusan Mangrove di Benoa Bali Mati Diduga Tercemar Logam Berat

Peneliti Unud mengungkap dugaan keracunan logam berat dan minyak menjadi penyebab kematian ratusan mangrove di Benoa, Denpasar. Pertamina melakukan investigasi.

Februari 26, 2026 - 21:30
Ratusan Mangrove di Benoa Bali Mati Diduga Tercemar Logam Berat

DENPASAR Tim peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana (Unud) Bali mengungkap dugaan kuat keracunan logam berat dan senyawa minyak sebagai penyebab kematian mendadak ratusan pohon mangrove di kawasan Benoa, Denpasar.

Koordinator tim peneliti, Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, menjelaskan kematian mangrove menunjukkan pola khas penyakit abiotik, yakni kerusakan yang terjadi pada satu blok populasi dan tidak menyebar secara sporadis.

“Tanaman sakit dan mati karena terserang penyakit abiotik salah satunya karena keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon (minyak),” ujarnya saat dikonfirmasi di Denpasar, Kamis (26/2/2026).

Tim telah melakukan diagnosis lapangan di sisi barat gerbang Tol Bali Mandara Benoa. Mereka menemukan ratusan mangrove mati dengan gejala awal berupa daun menguning, berubah kecokelatan, kulit batang mengelupas, pertumbuhan kerdil, akar membusuk atau menghitam, serta penebalan daun.

Hasil diagnosis menunjukkan kontaminasi hidrokarbon pada ekosistem mangrove umumnya masih tersimpan di sedimen tanah. Minyak yang meresap ke pori tanah dapat menutup akar dan bersifat toksik bagi tanaman.

Menurut tim, senyawa aromatik dalam bahan bakar minyak mampu merusak membran sel tanaman, mengganggu penyerapan nutrisi, dan memicu kematian pohon hanya dalam hitungan minggu setelah paparan.

Tim peneliti mencatat beberapa spesies mangrove terdampak hingga Februari 2026, antara lain: Sonneratia alba (prapat): area intensif sekitar enam are, diduga akibat rembesan minyak, Rhizophora apiculata (bakau): area sebaran sekitar 60 are, diduga terkait kebocoran pipa distribusi; Avicennia marina (api-api): berada di blok barat tol, diduga akibat residu pemeliharaan pipa.

Sebagai langkah mitigasi, tim peneliti merekomendasikan, di antaranya: pemantauan rutin kesehatan mangrove, isolasi bakteri pendegradasi minyak bumi untuk bioremediasi. audit lingkungan infrastruktur energi, termasuk penggantian pipa yang melewati umur teknis, pemasangan sensor deteksi kebocoran.

Di samping itu, perlu moratorium dan penegakan hukum jika ditemukan pelanggaran, pembersihan lumpur tercemar dan sisa minyak, serta rehabilitasi melalui penanaman kembali mangrove.

Sementara itu, Manager Komunikasi, Relasi dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Ahad Rahedi, menyatakan pihaknya tengah melakukan investigasi.

Ia mengungkapkan hasil pengamatan visual awal oleh tim Terminal BBM Pesanggaran belum menemukan indikasi lapisan minyak maupun bau menyengat di sekitar lokasi terdampak.

Meski demikian, Pertamina akan menelusuri kronologi operasional beberapa bulan terakhir, khususnya terkait pekerjaan pipanisasi di kawasan Benoa.

Perusahaan juga berkomitmen mempercepat pemulihan ekosistem mangrove dan membuka peluang kerja sama dengan pihak lain yang beroperasi di wilayah tersebut. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow