Ratusan Gen Z Padati Taman Krida Budaya, Topeng Panji Patahkan Stigma Sepi Peminat
Ratusan Gen Z memadati Taman Krida Budaya Malang menyaksikan Tari Topeng Malangan “Dewi Ragil Kuning”. Antusiasme ini mematahkan stigma seni tradisi sepi peminat.
MALANG Ratusan penonton, mayoritas generasi muda, memadati Taman Krida Budaya Malang pada Sabtu (21/2/2026) malam untuk menyaksikan pertunjukan Tari Topeng Malangan bertajuk “Love Hunt for You: Dewi Ragil Kuning”. Antusiasme tersebut menjadi jawaban atas anggapan bahwa seni tradisi, khususnya Topeng Panji, mulai ditinggalkan anak muda.
Pertunjukan yang diinisiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur ini menjadi bagian dari strategi penguatan sektor kebudayaan dan pariwisata daerah. Program tersebut sejalan dengan visi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam mengoptimalkan potensi budaya lokal sebagai daya tarik wisata sekaligus identitas daerah.
Ara, staff UPT LPPK Taman Krida Budaya Malang mengungkapkan pemilihan pagelaran tari Topeng Panji karena euforianya semakin hilang di tengah generasi muda. Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Meskipun di tengah nuansa Ramadhan, nyatanya hal tersebut tak menyurutkan semangat pengunjung untuk datang menikmati tari Topeng Panji. Tampak ratusan pengunjung memadati area Taman Krida Budaya Malang.
“Saya kaget ternyata pengunjungnya banyak banget dan didominasi Gen-Z mahasiswa,” ujar Ara kepada TIMES Indonesia.
Euforia penonton yang didominasi Gen-Z untuk menonton tari topeng panji. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Kepala Bidang Kebudayaan Jawa Timur, Sadari juga menyampaikan apresiasi atas tingginya animo masyarakat terhadap pertunjukan Topeng Panji yang merupakan warisan budaya khas Malang tersebut.
“Kami sangat berterima kasih dan bangga kepada tamu undangan serta penonton yang luar biasa malam ini. Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Timur mengapresiasi digelarnya Tari Topeng Malang yang merupakan warisan budaya yang perlu terus dilestarikan,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini terdapat anggapan bahwa seni tradisi, khususnya pertunjukan berbasis cerita klasik seperti Topeng Panji, kurang diminati generasi muda. Namun, antusiasme penonton pada malam itu membuktikan sebaliknya.
“Teori yang mengatakan seni tradisi kurang diminati seolah gugur malam ini. Saat saya melihat antusiasme penonton, ternyata penikmatnya luar biasa,” imbuhnya dengan nada bahagia.
Ia juga menambahkan dalam sambutannya bahwa pelestarian seni budaya daerah menjadi bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Dalam pertunjukan tersebut, sejumlah sanggar seni dari Malang Raya turut ambil bagian, di antaranya Sanggar Setyotomo, Mantraloka, Bayu Candra Kirana, Karimun Art Center, dan Kamulan Tulus Besar.
Pertunjukan Topeng Panji menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali minat masyarakat, terutama generasi muda terhadap kesenian tradisional. Selain sebagai hiburan, kegiatan ini juga menjadi upaya konkret pelestarian budaya lokal agar tetap relevan di tengah arus modernisasi. (*)
Apa Reaksi Anda?