PMII Banyuwangi Dorong Rekonstruksi Wacana Keislaman Lewat Simposium Kaderisasi

PMII Banyuwangi menggelar Simposium Kaderisasi sebagai ruang diskusi sekaligus refleksi bagi kader PMII Banyuwangi dalam mengawali fokus kinerja kaderisasi dan pengembangan wacana organisasi.

Maret 15, 2026 - 14:30
PMII Banyuwangi Dorong Rekonstruksi Wacana Keislaman Lewat Simposium Kaderisasi

BANYUWANGI Semangat rekonstruksi wacana sosial-keagamaan kembali bergeliat di kalangan generasi muda Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu tampak dalam kegiatan Simposium Kaderisasi yang digelar Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Banyuwangi bersama puluhan kader serta Pengurus Komisariat dan Rayon.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (10/3/2026) tersebut, digeber di Aula LP Ma’arif NU Kabupaten Banyuwangi. Simposium ini menjadi ruang diskusi sekaligus refleksi bagi kader PMII Banyuwangi dalam mengawali fokus kinerja kaderisasi dan pengembangan wacana organisasi.

Rangkaian acara dimulai dengan seremoni pembukaan, sambutan, diskusi tematik, hingga diakhiri dengan buka puasa bersama. Momentum ini juga menjadi titik awal perjalanan kaderisasi PMII Banyuwangi untuk memperkuat arah gerakan intelektual kader di tengah dinamika sosial-keagamaan yang terus berkembang.

Dengan mengusung tema "Hayya 'Ala at-Tajdid: Post-Tradisionalisme sebagai Paradigma Alternatif", kegiatan ini menyoroti pentingnya pembaruan cara pandang dalam membaca tradisi dan realitas sosial.

Ketua Bidang Kaderisasi PC PMII Banyuwangi, Hafid Aqil, dalam sambutannya berharap PMII Banyuwangi mampu menghadirkan gagasan alternatif di tengah wacana dan sistem kaderisasi yang selama ini dinilai perlu diperbaharui.

CDN ImageFoto bersama usai Simposium Kaderisasi PC PMII Banyuwangi. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)

Menurutnya, pasca 'rekonsiliasi politik' NU dengan Rezim di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, dalam Mukmatar NU di Situbondo pada 1984, tokoh-tokoh muda dari kalangan Nahdliyin telah menggagas gerakan pembaharuan Khittah 1926.

"Sahabat-sahabat PMII Banyuwangi perlu mengetahui bahwa gerakan ini bukan sebatas kembali kepada 'turats' lantas meninggalkan kenyataan sosial. Lebih jauh, gerakan ini justru membawa 'turats' untuk menjadi solusi konkret atas problem kekinian saat itu," katanya.

Hafid juga menjelaskan bahwa Post-Tradisionalisme yang menjadi kajian utama dalam simposium tersebut diharapkan mampu menggugat wacana yang selama ini telah mapan.

"Sebagai Nahdliyin yang mencoba untuk berpikir, perebutan wacana itu perlu dikenal dan dibebaskan. Maka ikhtiar ini tidak lain merupakan wadah untuk mengupayakan hal tersebut bersama-sama," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum PC PMII Banyuwangi, Haikal Roja' Hasbunallah, menegaskan bahwa pengembangan wacana dalam proses kaderisasi merupakan aspek vital bagi keberlangsungan organisasi.

"Simposium kaderisasi ini bukan sekadar forum seremonial. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang konsolidasi gagasan, dialektika pemikiran, sekaligus refleksi bersama untuk membaca kembali arah dan masa depan kaderisasi PMII, khususnya di Kabupaten Banyuwangi," ucapnya.

Menurut Haikal, kaderisasi merupakan jantung organisasi. Dari proses inilah lahir kader-kader yang tidak hanya memiliki militansi gerakan, tetapi juga kedalaman intelektual, kepekaan sosial, serta komitmen kebangsaan dan keislaman yang kuat. 

"Oleh karena itu, kaderisasi tidak boleh berhenti pada formalitas pelatihan semata, melainkan harus menjadi proses pembentukan karakter, penguatan ideologi, dan penempaan kepemimpinan," cetusnya.

Sementara itu, dalam sesi diskusi tematik, Agus H. Abdul Latif, sebagai narasumber pertama, menyoroti pentingnya pembaruan dalam tradisi intelektual Nahdliyin.

"Nahdliyin kini seolah merasa cukup dengan khazanah keagamaan yang ada, namun, jika mau menuntut pembaharuan, muncul satu pertanyaan. Apakah kita betul-betul siap untuk menerima tuntutan tersebut?" ujarnya.

Salah satu pengasuh Ponpes Manba'ul Ulum Berasan itu, juga menyinggung posisi generasi muda yang berada di tengah dinamika dua generasi berbeda. Dia meyakini bahwa prinsip moderat yang kini hadir sebagai manhajulfikr NU, tidak bisa dipungkiri telah membawa banyak kemaslahatan untuk umat.

"Adopsi paradigma Barat memang pernah masif dilakukan oleh umat Islam. Namun, meninggalkan 'tradisi' juga bukan menjadi solusi umat, melainkan justru mengikis paradigma ke-Islaman itu sendiri,” tuturnya.

Dalam sudut pandang lain, narasumber kedua, Mahasin Haikal Amanullah, menjelaskan bahwa Post-Tradisionalisme Islam dapat dipahami sebagai sub-kultur yang hidup di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lurah Mukadimah Institute itu, menyebut bahwa Islam itu dinamis. Sehingga dalam bahasa Post-Tradisionalisme, Islam menjadi sub-kultur di tengah kultur yang bernama berbangsa dan bernegara.

"Biasanya kaum Post-Tradisionalis, mereka mengambil contoh untuk kemudian ditransformasikan pada sebuah nilai. Sehingga mereka tidak terpaku pada teks. Makanya kaum Post-Tradisionalis seringkali mampu membaca pergerakan lebih baik dari para orang-orang neo-modernis," paparnya.

Melalui simposium ini, PMII Banyuwangi berharap ruang-ruang diskusi intelektual di kalangan kader semakin hidup, sekaligus melahirkan gagasan segar yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi keislaman Nahdlatul Ulama. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow