Permainan Tradisional Pasar Slumpring Tegal, Masuk Nominasi 5 Besar Desa Bangga Budaya
Pasar Slumpring di Desa Cempaka, Tegal, masuk nominasi 5 besar Desa Bangga Budaya berkat konsistensinya melestarikan permainan egrang dan gasing tanpa gawai.
TEGAL - Suara tawa anak-anak memecah ketenangan di bawah rimbunnya rumpun bambu Pasar Slumpring, Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Di tengah derasnya arus modernisasi, ruang sederhana ini hadir menawarkan pengalaman langka: anak-anak bebas berlari, tertawa, dan bermain tanpa sekat layar gawai.
Berangkat dari kesederhanaan tersebut, Pasar Slumpring berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Upaya menghidupkan kembali permainan tradisional mengantarkan kawasan ini masuk dalam nominasi 5 besar Desa Bangga Budaya. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas komitmen masyarakat dalam menjaga warisan lokal.
Manajer Pasar Slumpring, Hidayatulloh, menjelaskan bahwa pasar yang mulai beroperasi sejak 2024 ini secara konsisten menghadirkan berbagai permainan tradisional, mulai dari egrang hingga gasing.
"Di sudut area, anak-anak tampak berusaha menyeimbangkan tubuh di atas bambu egrang, jatuh, lalu bangkit lagi dengan tawa. Di sisi lain, mereka berkumpul memperhatikan gasing yang berputar cepat di tanah," ujar Hidayatulloh saat diwawancarai, Minggu (19/4/2026).
Bagi anak-anak, ini adalah pengalaman baru yang menyegarkan di tengah dominasi teknologi. Namun bagi generasi yang lebih tua, pemandangan ini menjadi napas baru bagi kenangan masa kecil yang perlahan mulai terkikis zaman.
Kolaborasi Akademis dan Nilai Edukasi
Inisiatif ini tidak berjalan sendiri. Pengelola Pasar Slumpring bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) melalui program pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan kehidupan desa untuk menghadirkan pendekatan edukatif yang membumi.
Egrang dinilai efektif melatih keseimbangan dan keberanian, sementara gasing mengasah konsentrasi serta koordinasi. Di balik itu, terselip nilai-nilai kerja sama, sportivitas, dan interaksi sosial yang kini mulai tergeser oleh budaya individualistik.
Setiap kegiatan rata-rata diikuti oleh 40 hingga 50 peserta, baik dari warga setempat maupun wisatawan luar daerah. Kehadiran orang tua yang mendampingi anak-anak menciptakan suasana hangat lintas generasi.
"Ada rasa haru sekaligus harapan bahwa nilai-nilai sederhana itu tidak benar-benar hilang dan tetap terlestarikan sepanjang masa," ungkap Hidayatulloh kepada awak media.
Ruang Belajar yang Hidup
Keunikan Pasar Slumpring terletak pada kemampuannya meramu wisata, edukasi, dan pelestarian budaya dalam satu ruang. Pasar ini bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, melainkan ruang belajar yang hidup di mana anak-anak dapat mengalami langsung proses belajar yang menyenangkan.
Masuknya Pasar Slumpring dalam 5 besar Desa Bangga Budaya membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus kaku. Dengan pendekatan kreatif, tradisi justru bisa hadir lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ke depan, masyarakat berharap inisiatif dari Desa Cempaka ini dapat menjangkau lebih banyak kalangan dan menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain. Pesan kuat yang dibawa adalah: dari permainan egrang dan gasing, tersimpan nilai luhur yang layak dijaga sebagai bekal bagi generasi mendatang. (*)
Apa Reaksi Anda?