Perjuangan Sutaji, Penjual Kerupuk Keliling di Jombang, Wujudkan Impian Haji di Usia Senja

Sutaji, penjual kerupuk keliling di Jombang resmi tercatat sebagai calon jemaah haji dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada musim haji 2026 ini.

April 26, 2026 - 10:04
Perjuangan Sutaji, Penjual Kerupuk Keliling di Jombang, Wujudkan Impian Haji di Usia Senja

JOMBANG - Saat sebagian orang masih terlelap di pagi hari, Sutaji sudah lebih dulu memulai perjuangannya. Pria 66 tahun asal Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang ini setia mengayuh sepeda ontel tuanya, menyusuri jalan hingga gang-gang sempit demi menjajakan kerupuk.

Rutinitas itu bukan hal baru baginya. Setelah menunaikan salat subuh berjamaah, Sutaji langsung menyiapkan dagangannya. Dua keranjang besar berisi kerupuk ditata rapi di bagian belakang sepeda pancal kesayangannya, lalu ia berangkat berkeliling ke warung-warung di wilayah Peterongan hingga Kota Jombang.

Profesi sebagai penjual kerupuk keliling telah digelutinya sejak 1970. Tanpa kendaraan bermotor atau lapak tetap, Sutaji hanya mengandalkan sepeda tua dan ketekunan untuk mencari nafkah.

Sutaji lahir di Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto. Sejak muda, ia sudah terbiasa berjualan kerupuk. Pada 1983, ia menikah dengan Siti Hana (62), perempuan asal Dusun Budug yang hingga kini setia mendampinginya dalam suka dan duka.

Sutaji 2

Dari pernikahan itu, tersimpan sebuah harapan besar yang mereka rawat bertahun-tahun: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

“Sejak awal menikah, saya sudah berniat. Kalau Allah memberi rezeki, ingin sekali ke Tanah Suci Makkah,” ujar Sutaji saat ditemui, Minggu (26/4/2026).

Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, ia mulai berkeliling. Kerupuk yang dijualnya diambil dari pabrik di wilayah Senden, Peterongan. Dalam waktu sekitar satu jam, lima kilogram kerupuk biasanya ludes terjual.

“Setiap hari saya bawa sekitar lima kilogram. Saya bungkus plastik isi empat, satu bungkus saya jual Rp500,” jelasnya.

Pada era 1980-an, penghasilannya hanya sekitar Rp1.000 per hari. Namun, dari jumlah tersebut, ia tetap disiplin menabung. Sekitar Rp200 disisihkan setiap hari sebagai bekal masa depan, bukan untuk kebutuhan konsumtif.

Kini, seiring perubahan zaman, penghasilannya meningkat. Pada 2026, Sutaji bisa memperoleh sekitar Rp100 ribu per hari. Separuh digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sementara sisanya tetap ia tabung.

Sutaji 3

“Yang penting niat dan hidup sederhana. Kebutuhan cukup, sisanya ditabung,” tuturnya.

Kesabaran dan konsistensi itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 2012, sang istri lebih dahulu mendaftar haji. Sutaji menyusul pada 2019 setelah kembali mengumpulkan biaya dari hasil berjualan.

Kini, pasangan tersebut resmi tercatat sebagai calon jemaah haji dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada musim haji 2026.

Meski impiannya hampir terwujud, Sutaji memilih tetap rendah hati. Ia tidak pernah membanggakan rencananya kepada orang lain, melainkan menyimpannya dalam doa dan kerja keras. Kepada sesama pedagang, ia hanya memohon doa dan restu.

“Saya hanya minta didoakan supaya sehat dan lancar berangkat sampai pulang,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Sutaji, perjalanan hidupnya bukan untuk dipamerkan. Ia berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bahwa keterbatasan ekonomi bukan halangan untuk meraih mimpi besar.

“Siapa pun yang punya niat baik, semoga Allah SWT memudahkan jalannya,” pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow