Peringatan HUT ke-30, GKJW Tunjungsekar Malang Pererat Kebersamaan Antar Jemaat

Peringatan kali ini mengusung tema 'Bertumbuh ke Arah Kristus dan Membangun Diri dalam Kasih-Nya'.

April 12, 2026 - 22:31
Peringatan HUT ke-30, GKJW Tunjungsekar Malang Pererat Kebersamaan Antar Jemaat

MALANG - Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Gereja Kristen Jawi Wetan Tunjungsekar (GKJW TunjungsekarKota Malang berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan.

Kegiatan puncak yang digelar pada Minggu (12/4/2026) tersebut dihadiri sekitar 600 jemaat.

Pendeta GKJW Tunjungsekar, Retnosari, menyampaikan bahwa peringatan ini mengusung tema 'Bertumbuh ke Arah Kristus dan Membangun Diri dalam Kasih-Nya'.

 Tema tersebut menjadi pengingat agar jemaat tidak berhenti berkembang, melainkan terus membangun diri demi menjaga keberlanjutan pelayanan gereja.

Menurutnya, pelayanan gereja harus mampu menjangkau siapa pun yang membutuhkan, baik melalui bantuan maupun sapaan kasih kepada sesama.

HUT GKJW Tunjungsekar 2

Ia juga mengajak seluruh jemaat untuk tetap bersukacita dalam setiap kondisi, dengan keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah kehidupan.

Sementara itu, Ketua Pelaksana HUT ke-30 GKJW Tunjungsekar, Christianto Imanuel, menuturkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang dengan mengedepankan nilai kebersamaan.

Ia mengakui, proses persiapan sempat diwarnai keraguan, namun berkat upaya bersama, kegiatan dapat terlaksana dengan baik.

“Kami sempat ragu di awal, tetapi dengan usaha maksimal dan kebersamaan, acara ini akhirnya dapat berjalan lancar,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebersamaan menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan semangat tersebut, setiap hambatan dapat dilalui dengan rasa aman dan penuh keyakinan.

Adapun rangkaian kegiatan dalam perayaan ini meliputi lomba vokal grup antar jemaat GKJW Tunjungsekar, lomba vokal grup antar gereja, lomba desain altar, penyusunan buku sejarah gereja, serta acara puncak HUT GKJW Tunjungsekar.

HUT GKJW Tunjungsekar 3

Lomba desain altar digelar karena perkembangan jumlah jemaat yang mendorong penyesuaian fasilitas dan tata ruang gereja.

Sementara itu, penyusunan buku sejarah dilakukan sebagai bentuk arsip perjalanan gereja, mulai dari proses pendirian, tokoh penggagas, hingga perkembangan bangunan dan pelayanan.

Penyusunan buku tersebut diharapkan dapat menjadi warisan bagi generasi mendatang, sekaligus menjadi pengingat perjalanan GKJW Tunjungsekar.

"itu kita mau membuat buku itu untuk anak cucu kita supaya nanti bisa tahu bahwa dulu tuh seperti ini untuk saat ini seperti itu mbak,” tambahnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow