Penghargaan Ketahanan Pangan Jadi Bukti Komitmen Banyuwangi untuk Kemajuan Ekonomi Daerah

Suasana penuh kegembiraan menyelimuti Kabupaten Banyuwangi ketika Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan penghargaan bergengsi, "Award Peduli Ketahanan Pangan Tahun 20 ...

November 16, 2023 - 12:30
Penghargaan Ketahanan Pangan Jadi Bukti Komitmen Banyuwangi untuk Kemajuan Ekonomi Daerah

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Suasana penuh kegembiraan menyelimuti Kabupaten Banyuwangi ketika Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan penghargaan bergengsi, "Award Peduli Ketahanan Pangan Tahun 2023".

Prestasi ini menjadi bukti nyata dari dedikasi dan kerja keras Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang tanpa henti memimpin upaya mempertahankan ketahanan pangan di Bumi Blambangan.

Banyuwangi, yang dikenal sebagai daerah agraris yang subur, telah berupaya keras mempertahankan keberlanjutan dalam hal pertanian. Di bawah kepemimpinan dari Bupati Ipuk, berbagai inovasi dan program unggulan telah diimplementasikan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memastikan ketersediaan pangan yang cukup untuk masyarakat.

Pada peringatan Hari Pangan Sedunia ke-43 di Surabaya, Plt. Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Ilham Juanda,menerima penghargaan bergengsi dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Penghargaan tersebut diserahkan secara resmi kepada Ilham Juanda sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan inovasi yang telah diimplementasikan dalam pemanfaatan pangan di Kabupaten Banyuwangi

"Kami bersyukur Banyuwangi mendapatkan penghargaan Peduli Ketahanan Pangan dari Provinsi Jatim kategori pemanfaatan pangan. Ini semakin meneguhkan kami untuk terus berkomitmen memajukan sektor pertanian dan pangan yang selama ini menjadi andalan daerah untuk memajukan perekonomian daerah," kata Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Kamis (16/11/2023).

Penghargaan ini tidak hanya menjadi sumber kebanggaan bagi Banyuwangi, tetapi juga menjadi motivasi ekstra untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas ketahanan pangan. Dengan semangat yang membara, Banyuwangi siap menjelma menjadi contoh inspiratif bagi daerah-daerah lain dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan merata di seluruh tanah air.

Dengan semangat komitmen dan kepedulian yang tinggi terhadap ketahanan pangan yang berkelanjutan, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengungkapkan upaya maksimal Pemerintah Kabupaten dalam mengembangkan sejumlah inovasi.

Salah satu inovasinya adalah Sister Say (Sistem Terintegrasi Ternak, Ikan, dan Sayur), sebuah langkah progresif untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, khususnya bagi warga desa yang rentan terhadap stunting.

"Inovasi ini mengoptimalkan aplikasi konsep urban farming yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu lahan. Di lahan tersebut tersedia tanaman sayuran, buah-buahan, serta perikanan sistem bioflok dan kandang ternak dalam satu lahan," jelas Ipuk.

Sister Say tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi juga simbol dari upaya holistik dalam menyediakan pangan yang sehat dan bergizi bagi masyarakat. Melalui integrasi yang cermat antara pertanian, peternakan, dan perikanan, Sister Say tidak hanya meningkatkan produksi pangan tetapi juga memperkuat ketahanan pangan secara menyeluruh.

Bupati Ipuk menyatakan bahwa Sister Say bukan hanya sebuah konsep, tetapi merupakan realisasi nyata dari visi untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan tangguh.

Banyuwangi tidak hanya mengandalkan inovasi seperti Sister Say untuk meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga memberikan perhatian khusus pada generasi muda melalui program inkubasi sektor pertanian bernama Jagoan Tani.

Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda Banyuwangi untuk berkontribusi dalam mengembangkan sektor pertanian daerah.

Dalam program Jagoan Tani, Pemkab menyelenggarakan kompetisi dengan hadiah berupa modal ratusan juta rupiah bagi para pemenangnya. Adapun tujuan utama dari Jagoan Tani adalah untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam sektor pertanian.

"Kami ingin anak muda Banyuwangi bisa berperan terhadap pertanian Banyuwangi. Kontribusi pada PDRB terus menurun setiap tahun. Jumlah petani juga. Jagoan Tani dibutuhkan untuk menjawab itu, dan anak Banyuwangi harus muncul mendongkrak pertanian Banyuwangi,” tuturnya.

Selaras, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Ilham Juanda, menambahkan bahwa Banyuwangi juga memberikan fasilitasi perizinan bidang ketahanan pangan melalui program Imam Pesat (Implementasi Keamanan Pangan Segar Asal Tumbuhan/PSAT).

Dengan nomor registrasi, produk pangan dari pelaku usaha mikro dan kecil lebih terjamin kualitasnya. Sebanyak 51 merk dagang produk PSAT telah teregistrasi dalam kurun waktu 2021-2022. Produk-produk ini mendapatkan pendampingan dan diarahkan untuk masuk ke dalam e-katalog lokal, sehingga dapat memperluas pasar mereka.

Banyuwangi juga terus mendorong diversifikasi pangan melalui Festival Pangan Nonberas Nonterigu (Fepanora). Kegiatan ini bukan hanya sekadar ajang festival, tetapi juga sebagai edukasi bagi masyarakat untuk lebih kreatif dalam mengolah makanan.

“Dengan fokus pada variasi bahan pangan lokal, kami berusaha mempromosikan makanan lezat dan bergizi yang tidak selalu berasal dari beras dan terigu,” ungkap Ilham.

Melalui langkah-langkah ini, Banyuwangi menunjukkan komitmen kuatnya dalam membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan dan inklusif di tengah perubahan zaman.(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow