Paradoks Mitologi, Pertarungan Spirit dan Logika dalam Pameran Sastra Rupa

Pameran “Paradoks Mitologi” di Galeri Raos Batu mengangkat refleksi zaman melalui perpaduan seni rupa dan sastra hingga 19 April 2026.

April 10, 2026 - 22:03
Paradoks Mitologi, Pertarungan Spirit dan Logika dalam Pameran Sastra Rupa

BATU - Pameran sastra rupa bertajuk Paradoks Mitologi digelar di Galeri Raos, Kota Batu, sejak 4 hingga 19 April 2026, menghadirkan perpaduan seni rupa dan sastra sebagai medium refleksi kondisi sosial kontemporer.

Kegiatan yang digagas Slamet Hendro Kusumo atau Slamet Henkus ini tidak hanya menampilkan karya visual, tetapi juga menghadirkan diskusi dan bedah karya bersama seniman serta sastrawan. Pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp5.000.

Slamet Henkus menjelaskan, pameran ini berangkat dari kegelisahan terhadap perubahan zaman yang dinilai sarat kontradiksi. Konsep “paradoks” yang diusung merujuk pada pertemuan dua hal yang saling berlawanan, namun tetap memungkinkan terjadinya akulturasi dalam kehidupan masyarakat.

“Saya ingin mendialogkan posisi kita saat ini. Seorang kreator harus memiliki kepekaan terhadap situasi,” ujarnya.

LUKISAN - 2Karya seni dalam pameran “Paradoks Mitologi” di Galeri Raos, Kota Batu, menampilkan narasi visual tentang pertarungan mitos, spiritualitas, dan logika modern. (Foto: Firyanka Mirna Wahita/TIMES Indonesia)

Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan zeitgeist atau spirit zaman yang terus bergerak dan memengaruhi cara pandang masyarakat, termasuk dalam konteks kehidupan spiritual yang tidak terlepas dari akar budaya.

Menurutnya, terdapat pertarungan antara mitologi yang disakralkan dengan logos atau rasionalitas di era modern. Kondisi ini, kata dia, turut tercermin dalam fenomena sosial seperti maraknya hoaks dan disinformasi.

Dalam proses kreatifnya, Slamet mengaku menggabungkan intuisi dengan riset literasi untuk membangun karya yang kontekstual dengan realitas.

Seluruh karya dalam pameran ini disusun secara naratif. Pengunjung diajak mengikuti alur pemaknaan yang bergerak dari situasi chaos menuju pencarian ketenangan, termasuk melalui simbol-simbol tertentu.

“Karya seni seharusnya tidak membodohi, tetapi mengajak pemirsa berpikir,” tegasnya.

Selama pameran berlangsung, antusiasme pengunjung terlihat cukup tinggi, terutama dari kalangan generasi muda. Sejumlah pengunjung juga memanfaatkan kesempatan untuk berdialog langsung dengan seniman guna memahami makna karya.

Di area luar galeri, turut disajikan pameran buku skala kecil yang menampilkan karya literasi, sebagian berasal dari Satu Pena Jawa Timur. Buku-buku tersebut hanya tersedia selama pameran berlangsung.

LUKISAN - 1Pameran buku oleh Satu Pena Jawa Timur turut meramaikan kegiatan, menghadirkan karya literasi yang hanya tersedia secara terbatas selama pameran berlangsung. (Foto: Firyanka Mirna Wahita/TIMES Indonesia)

Selain itu, panitia juga menyediakan rangkaian diskusi dan bedah karya yang dapat diakses melalui informasi di media sosial Galeri Raos.

Pameran ini diharapkan menjadi ruang interaksi antara seniman dan publik dalam memahami fenomena sosial melalui pendekatan estetika, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih reflektif terhadap perubahan zaman. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow