Pancaroba Datang, Peternak Banyuwangi Diminta Waspadai Fenomena Aratan
Memasuki musim pancaroba, para peternak di Banyuwangi diminta meningkatkan kewaspadaan.
BANYUWANGI Memasuki musim pancaroba atau masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, para peternak di Banyuwangi diminta meningkatkan kewaspadaan. Perubahan cuaca yang terjadi secara drastis dinilai menjadi periode paling rawan munculnya gangguan kesehatan pada hewan ternak.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi, drh Nanang Sugiharto, mengatakan bahwa salah satu fenomena yang kerap muncul saat pergantian musim adalah aratan.
Aratan sendiri adalah istilah yang merujuk pada kondisi ketika ternak mengalami stres atau kaget akibat perubahan cuaca yang mendadak.
Menurut Nanang, aratan biasanya terjadi ketika hewan yang sebelumnya terbiasa dengan udara dingin dan lembap saat musim hujan, tiba-tiba harus beradaptasi dengan suhu yang lebih panas dan kering. Perubahan ekstrem tersebut membuat kondisi fisik ternak tidak stabil.
“Ketika terjadi aratan, daya tahan tubuh ternak cenderung menurun. Di saat itulah hewan menjadi lebih rentan terserang penyakit,” jelas Nanang, Senin (2/3/2026).
Nanang menyebut, dampak aratan bisa terlihat dari menurunnya nafsu makan, hewan tampak lesu, hingga produksi yang ikut merosot, terutama pada ternak unggas dan sapi perah. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.
Untuk mengatasi hal tersebut, Nanang menekankan pentingnya menjaga kebersihan kandang serta memperhatikan pola pakan dan asupan vitamin bagi ternak.
“Pemberian vitamin berperan penting dalam memperkuat imunitas hewan. Selain itu, vaksinasi juga perlu dilakukan untuk mencegah penyakit menular,” tuturnya.
Dispertan Banyuwangi, lanjut Nanang, juga mengimbau peternak agar lebih rutin memantau kondisi ternak selama masa pancaroba. Pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan, terutama jika ditemukan gejala awal seperti penurunan nafsu makan, demam, atau perubahan perilaku.
Nanang menegaskan, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan setelah ternak terlanjur sakit.
Karena itu, kebersihan kandang, kualitas pakan, kecukupan air minum, hingga sirkulasi udara harus benar-benar diperhatikan agar ternak tidak mudah mengalami stres akibat perubahan cuaca.
Dengan kesiapsiagaan peternak serta dukungan pendampingan dari petugas kesehatan hewan, diharapkan dampak fenomena aratan di Banyuwangi dapat ditekan sehingga produktivitas ternak tetap terjaga meski cuaca sedang tidak menentu. (*)
Apa Reaksi Anda?