Pakar UMM Ungkap Bahaya Penularan Campak pada Bayi

Momen Lebaran yang identik dengan silaturahmi dan interaksi antar keluarga justru menyimpan potensi bahaya penularan penyakit menular, salah satunya campak.

Maret 18, 2026 - 18:00
Pakar UMM Ungkap Bahaya Penularan Campak pada Bayi

JAKARTA Momen Lebaran yang identik dengan silaturahmi dan interaksi antar keluarga justru menyimpan potensi bahaya penularan penyakit menular, salah satunya campak. Tingginya mobilitas masyarakat saat mudik serta intensitas pertemuan dalam suasana penuh keakraban dinilai dapat mempercepat penyebaran virus, terutama pada anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan.

Meningkatnya mobilitas masyarakat saat momen Lebaran turut memunculkan kewaspadaan baru di bidang kesehatan. Keramaian selama mudik hingga tradisi silaturahmi keluarga dinilai berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit menular, salah satunya campak. Kondisi ini menjadi perhatian berbagai pihak, mengingat anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap infeksi tersebut.

Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus dokter spesialis anak, Dr. dr. Pertiwi Febriana Chandrawati, M.Sc., Sp.A, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap penularan campak, terutama pada anak-anak. Menurutnya, virus campak merupakan salah satu penyakit infeksi yang sangat mudah menyebar di lingkungan dengan interaksi sosial yang tinggi.

Pertiwi menjelaskan bahwa penularan campak dapat terjadi melalui percikan droplet ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Virus tersebut bahkan dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu setelah penderita meninggalkan ruangan. Oleh karena itu, keramaian seperti perjalanan mudik, transportasi umum, hingga pertemuan keluarga besar berpotensi meningkatkan risiko penularan.

“Mobilitas masyarakat saat mudik memang dapat meningkatkan potensi penyebaran campak, terutama karena banyak interaksi di ruang tertutup seperti transportasi umum maupun kerumunan keluarga,” jelasnya 17 Maret lalu pada Tim Humas UMM.

Ia menambahkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini. Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan sehingga belum mampu melawan infeksi virus secara optimal. Kondisi tersebut membuat anak lebih mudah tertular ketika berada di lingkungan yang padat interaksi.

Selain faktor imun, kondisi nutrisi juga memengaruhi ketahanan tubuh anak terhadap infeksi. Kekurangan nutrisi tertentu dapat memperburuk kondisi ketika anak terpapar virus campak. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga infeksi pada sistem saraf.

Di sisi lain, kebiasaan masyarakat saat Lebaran juga berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit. Banyak orang secara spontan menggendong atau mencium bayi ketika bertemu dalam acara silaturahmi. Menurut Pertiwi, kebiasaan tersebut sebaiknya mulai dibatasi demi melindungi kesehatan anak.

“Kebiasaan memeluk, menggendong, atau mencium bayi dapat meningkatkan peluang penularan penyakit yang menyebar melalui droplet,” ujarnya.

Apabila seorang anak terpapar virus campak, gejala biasanya tidak langsung muncul. Umumnya terdapat masa inkubasi sekitar 10 hingga 12 hari sebelum tanda penyakit terlihat. Setelah itu, anak dapat mengalami demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam pada kulit.

Pada fase awal tersebut, anak sudah dapat menularkan virus kepada orang lain. Karena itu, orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala seperti demam, batuk, pilek, atau ruam yang mengarah pada campak.

Pertiwi menegaskan bahwa langkah pencegahan paling efektif adalah memastikan anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sesuai jadwal. Imunisasi membantu tubuh membentuk perlindungan yang kuat terhadap virus campak serta menurunkan risiko komplikasi.

“Imunisasi campak adalah perlindungan terbaik agar anak memiliki imunitas yang kuat dan terhindar dari komplikasi berat,” tuturnya.

Melalui edukasi kesehatan yang terus dilakukan, UMM berharap masyarakat semakin memahami bahwa interaksi selama Lebaran perlu disikapi dengan bijak. Dengan menjaga kebersihan, membatasi kontak langsung dengan anak kecil, serta memastikan imunisasi lengkap, keluarga tetap dapat merayakan Lebaran dengan aman tanpa mengabaikan risiko penularan penyakit. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow