Pahala Tarawih Malam ke-11 Ramadan, Dijanjikan Wafat Seperti Bayi Baru Lahir
Ramadan
JAKARTA Tarawih malam ke-11 Ramadan diyakini memiliki keutamaan istimewa di mana orang yang menghidupkannya disebut akan wafat dalam keadaan suci, seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.
Keyakinan ini tercantum dalam kitab klasik Durrat al-Nasihin fi al-Wa’zhi wa al-Irsyad karya Syekh Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari.
Dalam kitab tersebut tertulis:
وَفِى اللَّيْلَةِ الْحَادِيَةَ عَشَرَةَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا كَيَوْمٍ وُلِدَ مِنْ بَطْنِ اُمِّهِ
Artinya: Pada malam kesebelas, kelak ia akan meninggal dunia seperti keadaan di mana ia baru dilahirkan dari perut ibunya.
Keterangan ini sering dibacakan dalam pengajian Ramadan sebagai penyemangat jamaah agar tetap istiqamah menunaikan salat tarawih.
Memasuki fase pertengahan bulan suci, sebagian orang mulai merasa lelah. Namun, janji keutamaan seperti ini menjadi pengingat bahwa setiap malam Ramadan menyimpan nilai ibadah yang tidak sederhana.
Bagi banyak umat Islam, gambaran “kembali suci seperti bayi” adalah simbol pengampunan total. Bukan sekadar bebas dari dosa, tetapi pulang kepada Allah dalam keadaan bersih.
Karena itu, malam ke-11 kerap dipandang sebagai momentum memperkuat niat, meluruskan kembali tujuan berpuasa, dan menjaga kualitas ibadah.
Terlepas dari perbedaan pandangan ulama dalam menilai riwayat keutamaan tiap malam tarawih, pesan moralnya tetap sama: Ramadan adalah kesempatan membersihkan diri. Dan tarawih bukan hanya soal hitungan rakaat, melainkan kesungguhan hati.
Malam demi malam berlalu. Yang tersisa adalah pertanyaan sudahkah kita memaksimalkan kesempatan yang mungkin tak akan terulang di tahun depan? (*)
Apa Reaksi Anda?