Napak Tilas 100 Tahun NU, FJN Dorong Muktamar NU ke-35 Digelar di Kota Pahlawan

Forkom Jurnalis Nahdliyin mendorong Surabaya menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 tahun 2026 dengan alasan historis napak tilas 100 tahun NU dan kesiapan teknis fasilitas metropolis.

April 21, 2026 - 23:09
Napak Tilas 100 Tahun NU, FJN Dorong Muktamar NU ke-35 Digelar di Kota Pahlawan

SURABAYA - Pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang. Agenda tertinggi organisasi berlambang jagat tersebut akan diawali dengan gelaran Munas Alim Ulama dan Konbes NU pada April ini.

PBNU telah membentuk kepanitiaan Muktamar dengan menunjuk Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Ketua Panitia Pelaksana (Organizing Committee/OC). Sekretaris Jenderal PBNU yang juga Menteri Sosial ini didampingi Amin Said Husni sebagai Sekretaris. Sementara posisi Ketua Panitia Pengarah (Steering Committee/SC) dipercayakan kepada KH Ahmad Said Asrori dengan didampingi Prof. M. Nuh selaku Sekretaris.

Hingga saat ini, lokasi tuan rumah Muktamar NU ke-35 belum diputuskan. Sejumlah daerah mulai mengajukan diri sebagai lokasi perhelatan bersejarah di usia NU yang telah memasuki abad kedua ini. Beberapa rekomendasi yang muncul di antaranya Kabupaten Situbondo yang diusulkan Bupati Mas Rio, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, hingga PWNU Nusa Tenggara Barat (NTB) yang secara resmi telah menyurati PBNU.

Namun, Ketua Umum Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN) sekaligus Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur, Muhamad Didi Rosadi, menilai Kota Surabaya adalah tempat paling layak sebagai tuan rumah. Ia menyebut dukungan pemerintah daerah menjadi garansi suksesnya hajat akbar tersebut.

"Wali Kota Eri Cahyadi pernah melontarkan kesiapan Surabaya menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 saat menerima silaturahmi FJN di Balai Kota pada 2021 lalu," ujar Didi, Selasa (21/4/2026).

Didi optimistis, jika Muktamar digelar di Surabaya, akan ada dukungan besar dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Ia mencontohkan kesuksesan agenda besar seperti Peringatan Satu Abad NU di Sidoarjo (2023), Kongres Muslimat NU ke-18 di Surabaya (2025), hingga Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Stadion Gajayana (2026) yang dihadiri Presiden RI, Prabowo Subianto.

"Ada dua variabel utama mengapa Surabaya layak: faktor historis dan teknis," jelas Didi.

Tinjauan Historis: Napak Tilas Kelahiran NU

Dari sisi historis, Muktamar ke-35 di Surabaya merupakan bentuk napak tilas sejarah. Di kota inilah NU didirikan dan dideklarasikan pada 31 Januari 1926. Kantor PBNU pertama pun berlokasi di Jalan Bubutan, Surabaya.

Sejarah mencatat, Muktamar NU pertama digelar di Surabaya pada 21 Oktober 1926 yang menetapkan Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar. Di kota ini pula Resolusi Jihad dicetuskan pada 22 Oktober 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

"Surabaya memiliki ikatan emosional kuat bagi warga Nahdliyin, mulai dari keberadaan Masjid Ampel hingga Pesantren Sidosermo yang menjadi pusat syiar Islam tertua di Surabaya," ungkapnya.

Tinjauan Teknis: Fasilitas Metropolis yang Mumpuni

Secara teknis, Surabaya sebagai kota metropolis memiliki infrastruktur yang sangat siap. Akses transportasi lengkap mulai dari dua stasiun kereta api besar (Gubeng dan Pasar Turi), Bandara Internasional Juanda, Pelabuhan Tanjung Perak, hingga Terminal Purabaya.

"Akses jalan tol di Jawa Timur kini sangat menunjang perjalanan darat. Untuk akomodasi, Surabaya memiliki banyak pilihan mulai dari hotel bintang lima hingga Asrama Haji yang sangat representatif," papar Didi.

Untuk venue utama, Surabaya menawarkan banyak pilihan seperti Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Stadion Gelora Delta Sidoarjo, hingga aula megah seperti Airlangga Hall Centre dan fasilitas berbagai kampus ternama seperti Unair, ITS, Unesa, Unusa, UINSA, hingga UPN Veteran.

"Kota Pahlawan memenuhi seluruh syarat untuk menyambut jutaan Nahdliyin, baik para peserta (muktamirin) maupun para penggembira dari seluruh penjuru dunia," pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow