Naa.Cookies dan Perjalanan Sukses Alvian Tri Saputra dalam Berbisnis
Di balik pesatnya pertumbuhan industri kuliner rumahan di era digital ini, terselip kisah inspiratif dari seorang pemuda asal Singosari, Jawa Timur, bernama Alvian Tri Saputra.
MALANG - Di balik pesatnya pertumbuhan industri kuliner rumahan di era digital ini, terselip kisah inspiratif dari seorang pemuda asal Singosari, Jawa Timur, bernama Alvian Tri Saputra.
Siapa sangka, sebuah hobi masa kecil yang bermula dari dapur sederhana di rumah kini bertransformasi menjadi sebuah entitas bisnis kue menjanjikan bernama Naa.Cookies.
Keberhasilan ini bukan sekadar tentang angka penjualan, melainkan tentang perjalanan panjang, ketekunan dan keberanian untuk bermimpi di usia yang sangat muda.
Ketertarikan Alvian pada dunia memasak bukanlah hal yang muncul secara instan. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia sudah menunjukkan ketertarikan yang unik terhadap alat-alat dapur.
Jika anak-anak seusianya lebih memilih menghabiskan uang jajan mereka untuk membeli mainan atau camilan instan, Alvian justru memiliki visi berbeda.
Ia dengan sabar mengumpulkan uang sakunya sedikit demi sedikit, tabungan demi tabungan, hanya untuk membeli peralatan masak seperti mixer, oven listrik dan timbangan digital.
Baginya, peralatan tersebut bukan sekadar benda mati, melainkan investasi untuk mengasah bakat yang ia yakini ada dalam dirinya.
"Mulai SD saya suka membuat eksperimen makanan, awal makanan yang saya buat yaitu martabak manis dan rasanya sama persis layaknya penjual martabak di luar sana," ujar Alvian mengenang masa kecilnya.
"Saat lebaran saya gunakan uangnya untuk membeli alat masak, hal tersebut membuat saya menyadari bahwa hobi memasak adalah bakat yang saya punya," lanjutnya.
Pengalaman masa kecil tersebut menjadi pondasi kuat bagi Alvian. Ia tidak pernah lelah melakukan eksperimen resep martabak manis, yang ia sempurnakan dari waktu ke waktu.
Kegagalan demi kegagalan saat mencoba takaran bahan justru menjadi pelajaran berharga yang mengasah insting kuliner pemuda ini.
Ketekunannya terus berlanjut hingga ia beranjak remaja. Saat duduk di bangku kelas 7 SMP, Alvian mulai memberanikan diri untuk menjual hasil karya tangannya kepada teman dan kerabat.
Respons positif yang ia terima menjadi motivasi tambahan untuk terus melangkah lebih jauh.
Perjalanan Alvian tidak berhenti di dapur rumah saja. Ia terus berusaha meningkatkan kapabilitas dirinya.
Salah satu momen paling transformatif adalah saat ia mendapatkan kesempatan magang di hotel berbintang lima, Grand Mercure Malang Mirama.
Di sanalah ia belajar standar profesional dunia kuliner, mulai dari manajemen bahan baku, kebersihan, hingga teknik penyajian yang berkelas.
Pengalaman ini membuka wawasannya bahwa memasak bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal dedikasi dan profesionalisme.
Memasuki tahun 2024, langkah bisnis Alvian semakin terstruktur. Ia memutuskan untuk berkolaborasi dengan dua rekannya, Nabila dan Aisyah. Sinergi ini melahirkan nama Naa.Cookies, sebuah akronim dari huruf depan ketiga pendirinya.
Namun, membangun bisnis tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Mereka menghadapi berbagai kendala, mulai dari manajemen waktu antara kuliah dan bisnis, hingga rasa lelah yang terkadang membuat semangat menurun.
Namun, bagi Alvian dan timnya, lelah bukanlah pilihan untuk berhenti. Mereka terus berupaya menciptakan inovasi rasa yang dapat diterima oleh lidah semua orang.
Tahun 2026 menjadi titik balik kejayaan bagi bisnis mereka. Naa.Cookies tidak lagi hanya menjual kue dalam porsi kecil, melainkan telah merambah ke bisnis hampers yang diminati banyak kalangan.
"Masa jaya yang bener-bener meningkat itu di tahun ini. Aku sama timku sudah menjual beberapa hampers dan pesanan paling banyak yang sudah dibuat totalnya 150 kue," ungkap Alvian bangga.
Keberhasilan ini pun diakui oleh para konsumen. Natalia Arvin, salah satu pelanggan setia, mengaku sangat puas dengan kualitas produk Naa.Cookies.
"Menurut saya, dengan rasa yang premium dan harga yang ditawarkan, Naa.Cookies sudah terbilang ramah di kantong pelajar," ujar Natalia.
"Saya berharap kedepannya promosi mereka bisa lebih luas, mungkin bisa membuka stand di berbagai kegiatan kampus agar semakin dikenal luas," sambungnya.
Di luar kesuksesan bisnisnya, Alvian memiliki misi sosial yang lebih dalam. Ia ingin mematahkan stigma di masyarakat bahwa dunia kuliner, khususnya memasak, hanyalah pekerjaan untuk perempuan.
Ia secara tegas membuktikan bahwa laki-laki pun memiliki tempat yang sama di dunia kuliner. Asal punya tekad dan kemauan untuk belajar, siapa pun bisa menciptakan peluang ekonomi yang mandiri.
"Orang bilang di luaran sana banyak cara untuk mencari keuntungan, tapi dari aku seperti ini. Carilah penghasilan yang membuat kamu nyaman, apalagi wirausaha," ujarnya.
"Jadi jangan malu, jangan ragu untuk memulai dan kembangkan yang kamu miliki," pesan Alvian menutup perbincangan.
Kisah Alvian Tri Saputra adalah bukti nyata bahwa usaha yang dimulai dari ketulusan dan eksperimen masa kecil dapat membuahkan hasil besar.
Ia telah menunjukkan kepada generasi muda bahwa dengan ketekunan, kreativitas dan keberanian untuk menghadapi tantangan, masa depan yang menjanjikan bisa diciptakan dengan tangan sendiri, dari dapur rumah menuju kesuksesan yang lebih luas. (*)
(Pewarta: Ahmad Haikal Arif_Mahasiswa Ilkom FISIP UNMER Malang)
Apa Reaksi Anda?