Menjadi Cerdas di Balik Layar, Urgensi Literasi di Tengah Riuh Penghakiman Digital

Pengamat komunikasi mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terjebak penghakiman instan di media sosial tanpa memahami fakta hukum secara utuh.

Mei 13, 2026 - 10:30
Menjadi Cerdas di Balik Layar, Urgensi Literasi di Tengah Riuh Penghakiman Digital

SURABAYA - Menjadi netizen yang cerdas di era informasi melimpah ternyata membutuhkan kurikulum kesabaran yang tidak sedikit. Di tengah gempuran narasi viral yang kerap mengaduk emosi, masyarakat kini ditantang untuk belajar kembali cara membedakan antara riuhnya opini, tajamnya dugaan, dan dinginnya fakta hukum.

Realitas di ruang siber kita hari ini seringkali menyerupai ruang sidang terbuka. Bedanya, vonis dijatuhkan bukan oleh hakim, melainkan oleh jempol warganet melalui kolom komentar. Fenomena penghakiman instan ini menjadi potret nyata betapa rapuhnya filter informasi publik, terutama saat berhadapan dengan konflik figur publik yang dikemas secara dramatis.

Agustina Widyawati, S.Sos., M.I.Kom, seorang akademisi sekaligus Pengamat Komunikasi, melihat tren ini sebagai dampak dari budaya instant judgment. Menurutnya, publik saat ini lebih mudah terdidik oleh algoritma untuk membentuk kesimpulan berdasarkan potongan video pendek dibanding memahami duduk perkara secara utuh.

“Padahal kita sering cuma lihat sebagian kecil dari sebuah persoalan. Emosi publik biasanya jauh lebih kuat dibanding keinginan untuk mencari fakta secara utuh,” ungkap Widya, Senin (11/5/2026).

Pendidikan literasi digital menjadi krusial ketika sebuah isu personal berubah menjadi konsumsi massal. Kasus yang menimpa pesohor seperti Ahmad Dhani dan Maia Estianty, misalnya, menunjukkan adanya jurang yang dalam antara simpati publik dengan fakta hukum di lapangan. Meski narasi di media sosial riuh rendah, bukti hukum melalui SP3 dari kepolisian seringkali terabaikan oleh mereka yang sudah terlanjur "memihak".

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik ini menjelaskan bahwa secara teoretis, media sosial sangat kuat dalam menentukan isu apa yang dianggap penting, namun seringkali gagal menyajikan kebenaran yang komprehensif. Inilah yang disebutnya sebagai trial by social media atau sebuah penghakiman sosial yang terjadi bahkan sebelum hukum sempat bicara.

"Orang merasa sudah tahu keseluruhan cerita hanya dari potongan konten yang lewat di beranda mereka. Padahal konflik atau persoalan keluarga itu kompleks, tidak sesederhana siapa benar dan siapa salah," tambah Widya.

Pesan edukasi yang ingin disampaikan jelas: jangan biarkan confirmation bias menumpulkan nalar kritis. Di dunia yang serba cepat ini, diam sejenak untuk mengecek fakta adalah bentuk kecerdasan baru.

“Di era digital, sesuatu yang ramai dibicarakan belum tentu sepenuhnya benar. Sesuatu yang terlihat jelas di media belum tentu menggambarkan realitas secara utuh. Ini perlu dipahami agar kita tidak menjadi bagian dari penyebar kegaduhan,” ucapnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow