Mengenal Tradisi Ritukan, Patrol Sahur Penanda Akhir Ramadan di Pesisir Gresik
Tradisi ritukan, kegiatan membangunkan sahur dengan balutan kesenian dan budaya, rutin digelar masyarakat di wilayah Kecamatan Ujungpangkah, salah satunya di Desa Pangkahwetan.
GRESIK Warga pesisir utara Kabupaten Gresik memiliki tradisi unik menjelang berakhirnya Ramadan atau seminggu sebelum Hari Raya Idulfitri. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan ritukan, yakni kegiatan membangunkan sahur yang dikemas dalam bentuk pawai seni budaya.
Tradisi ritukan rutin digelar masyarakat di wilayah Kecamatan Ujungpangkah, salah satunya di Desa Pangkahwetan.
Tidak sekadar membangunkan warga untuk sahur, kegiatan ini juga menjadi ajang pertunjukan seni rakyat yang meriah. Dalam pelaksanaannya, warga berkeliling kampung sambil memainkan berbagai kesenian tradisional.
Di antaranya atraksi pencak macan, reog, hingga pertunjukan seni budaya lainnya yang membuat suasana sahur terasa lebih semarak.
Kepala Desa Pangkahwetan, Syaifullah Mahdi, mengatakan tradisi ritukan diikuti banyak warga, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.
Mereka bersama-sama mengikuti pawai sambil menikmati suasana Ramadan yang penuh keceriaan.
“Ritukan di Pangkah sudah menjadi tradisi nenek moyang kita. Saya sendiri sejak kecil sudah mengenal istilah ritukan,” ujarnya.
Menurutnya, bagi masyarakat Ujungpangkah, ritukan juga menjadi penanda bahwa Ramadan akan segera berakhir dan Idulfitri semakin dekat.
Tradisi ini biasanya digelar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Selain membangunkan sahur, ritukan juga menjadi momen berkumpul bagi warga setelah menjalani aktivitas selama Ramadan.
Usai pawai, masyarakat biasanya kembali ke rumah untuk bersantap sahur bersama keluarga.
“Bagi warga Ujungpangkah, ritukan adalah momen menikmati 10 hari terakhir Ramadan. Setelah itu biasanya warga sahur bersama keluarga,” tambahnya.
Syaifullah juga menyebut dalam beberapa tahun terakhir, tradisi ritukan semakin meriah karena dilengkapi berbagai pertunjukan seni budaya seperti reog dan pencak macan.
“Sejak tiga tahun terakhir ada reog, pencak macan, dan kesenian lainnya. Selain membangunkan sahur, kegiatan ini juga mempererat silaturahmi warga sekaligus mempromosikan seni budaya,” ucapnya. (*)
Apa Reaksi Anda?