Mengelola Kecemasan di Tengah Isu Global, Psikolog Dorong Transformasi Jadi Energi Positif
Psikolog menilai jika kecemasan tidak dikelola dengan tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi tekanan psikologis yang lebih serius.
YOGYAKARTA - Gelombang informasi tentang konflik global, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga tekanan ekonomi kian membanjiri ruang publik. Imbasnya, muncul fenomena baru: kecemasan personal yang dipicu situasi dunia.
Psikolog menilai, jika tidak dikelola dengan tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi tekanan psikologis yang lebih serius.
Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), Pamela Andari Priyudha, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa paparan berita negatif secara terus-menerus berpengaruh besar terhadap kondisi mental masyarakat.
Menurutnya, banyak individu secara tidak sadar mulai memandang dunia sebagai tempat yang semakin tidak aman akibat informasi yang berulang.
“Belakangan ini saya sering menangani kecemasan yang dipicu oleh isu global. Paparan informasi membuat masyarakat terkondisikan untuk merasa dunia tidak baik-baik saja,” ujarnya, Selasa (13/4/2026).
Dalam praktiknya di platform layanan kesehatan mental, Pamela menemukan beragam kasus, mulai dari kecemasan ringan hingga tekanan emosional yang kompleks.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut kerap memicu apa yang dikenal sebagai acute anticipatory stress, yaitu respons tubuh yang bersiap menghadapi ancaman yang sebenarnya belum terjadi.
Respons ini, lanjutnya, bisa memunculkan gejala fisik seperti ketegangan, rasa tidak nyaman, hingga serangan panik.
Individu dengan pengalaman traumatis sebelumnya cenderung lebih rentan karena tubuh mereka lebih cepat mengaktifkan mekanisme kewaspadaan.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, kecemasan tersebut dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan.
Berbagai isu seperti ketidakpastian ekonomi, konflik global, hingga terbatasnya lapangan kerja memperkuat rasa tidak aman di masyarakat.
“Tanpa pengelolaan yang baik, kecemasan ini bisa meluas dan memicu kondisi seperti depresi secara kolektif,” jelas Pamela.
Namun demikian, di balik tekanan psikologis, terdapat peluang untuk bertumbuh.Pamela menekankan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengubah stres menjadi energi yang lebih konstruktif.
Konsep ini dikenal sebagai post-traumatic growth, yakni proses pertumbuhan setelah menghadapi pengalaman sulit.
Menurutnya, proses tersebut tidak terjadi secara instan. Individu perlu melalui refleksi mendalam serta upaya memahami pengalaman yang dialami.
Dalam beberapa kasus, pertumbuhan bahkan bisa berjalan beriringan dengan luka psikologis seperti PTSD.
“Post-traumatic growth bukan hanya tentang pulih, tetapi berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat dan memiliki kualitas hidup lebih baik,” katanya.
Pamela mencontohkan salah satu kasus yang ia tangani, di mana seorang pekerja mengalami kecemasan berat akibat isu PHK di tempat kerjanya. Kondisi itu memicu gejala fisik seperti mual hingga serangan panik.
Namun setelah mendapatkan pendampingan, individu tersebut mampu menyusun ulang tujuan hidup dan merancang langkah karier yang lebih sesuai.
Ia menambahkan, kemampuan untuk bangkit dari tekanan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti ketangguhan diri, optimisme, keterbukaan, serta kecerdasan emosional.
Selain itu, dukungan lingkungan dan akses terhadap informasi yang tepat juga berperan penting.
Sebagai praktisi yang aktif di platform digital, Pamela terus mendorong peningkatan literasi kesehatan mental di masyarakat.
Ia menilai, kemudahan akses layanan psikologis menjadi kunci dalam menghadapi tantangan mental di era informasi yang serba cepat.
Pamela juga menekankan pentingnya mengelola konsumsi informasi agar tidak berlebihan. Menurutnya, cara individu memaknai suatu peristiwa sangat menentukan respons emosional yang muncul.
“Kita mungkin tidak bisa mengendalikan situasi di luar diri, tetapi kita selalu punya kendali atas bagaimana meresponsnya,” paparnya. (*)
Apa Reaksi Anda?