Menakar Daya Beli di Pasar Kurban Tasikmalaya 202: Pasokan Melimpah, Domba Ekonomis Laris

Jika biasanya lapang-lapang penjualan sudah riuh oleh transaksi sejak sebulan lalu, kini ritme perdagangan bergerak jauh lebih tenang, cenderung lambat.

Mei 27, 2026 - 09:31
Menakar Daya Beli di Pasar Kurban Tasikmalaya 202: Pasokan Melimpah, Domba Ekonomis Laris

TASIKMALAYA - Riuh rendah suara mengembik saling bersahutan di dalam kandang komunal Gudang Domba Tasikmalaya.

Di antara deretan tiang kayu dan aroma pakan hijau yang segar, ratusan ekor domba siap memadati pasar kurban menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. 

Namun, ada yang berbeda pada musim kurban tahun 2026 ini. Jika biasanya lapang-lapang penjualan sudah riuh oleh transaksi sejak sebulan lalu, kini ritme perdagangan bergerak jauh lebih tenang, cenderung lambat.

​Dinamika pasar hewan kurban memang tidak pernah berdiri sendiri di ruang hampa. Ia menjadi cermin yang jernih dalam memantulkan kondisi makro ekonomi dan tingkat daya beli riil masyarakat di tingkat tapak.

​Pengelola Gudang Domba Tasikmalaya, Widi, mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh situasi ekonomi makro yang masih berada dalam fase pemulihan (economic recovery). 

Peternakan Domba TasikmalayaPengelola Peternakan Gudang Yudi Rhisnandi saat menunjukkan sejumlah domba siap jual di Peternakan Gudang Domba,  Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (26/5/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Dompet konsumen yang belum sepenuhnya pulih berdampak langsung pada prioritas dan gaya berbelanja hewan ibadah ini.

​"Kalau kita melihat dari sisi demand atau permintaan pasar, variabel makro ekonomi sangat terasa dampaknya tahun ini," ujar Widi saat ditemui TIMES Indonesia di area peternakannya, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Selasa (26/5/2026).

"Daya beli masyarakat kita posisinya masih bergerak dalam tahap pemulihan," imbuhnya

​Kondisi ini menurut Widi menciptakan anomali tersendiri jika disandingkan dengan hukum pasar konvensional.

Di satu sisi, dari kacamata supply (pasokan), stok hewan kurban khususnya domba dan kambing di wilayah Priangan Timur tercatat sangat melimpah.

 Namun, melimpahnya pasokan ini tidak serta-merta langsung diserap cepat oleh pasar akibat pergerakan transaksi yang masih mengerem.

​Perubahan paling kontras terlihat pada perilaku (behavior) para pembeli. Widi membandingkan dinamika transaksi tahun 2026 ini dengan kilas balik musim kurban pada tahun 2025 lalu.

 Ada pergeseran tren yang cukup ekstrem dari cara masyarakat mengamankan hewan kurban mereka.
​Pada tahun 2025, atmosfer pasar jauh lebih agresif.

 Konsumen berbondong-bondong melakukan pemesanan jauh-jauh hari, bahkan sejak H-30 sebelum hari raya Idul Adha. 

Skema indent atau pemesanan awal menjadi primadona karena masyarakat saat itu ingin memastikan mereka mendapatkan hewan terbaik tanpa takut kehabisan stok.

​"Tahun 2026 ini kondisinya berbalik arah secara total. Tren konsumen atau masyarakat sekarang lebih memilih untuk membeli mendekati hari H.

 Transaksi berjalan lambat di awal, dan kami melihat pasar cenderung wait and see (menunggu dan melihat situasi)," jelas Widi.

Peternakan Domba Tasikmalaya 3Ratusan domba saat berada di kandang koloni di Peternakan Gudang Domba,  Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (26/5/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

​Faktor psikologi ekonomi ini jamak terjadi ketika likuiditas di tingkat rumah tangga masih diperhitungkan dengan ketat. Konsumen memilih menahan uang tunai hingga menit-menit terakhir sebelum dialokasikan untuk berkurban.

​Imbas dari pemulihan ekonomi ini juga merembet pada pemilihan kelas atau tipe hewan kurban. Di Gudang Domba Tasikmalaya, pergeseran preferensi kelas ini terlihat sangat mencolok pada data penjualan.

​Untuk menyiasati ketatnya anggaran belanja masyarakat, tipe domba yang menjadi incaran utama di tahun 2026 ini bergeser ke kelas Paket Ekonomis, yang bertengger di rentang harga Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000 per ekor.

​"Tipe ekonomis di rentang 2 sampai 3 juta rupiah inilah yang grafis permintaannya paling tinggi merangkak naik. Ini sangat sejalan dengan ulasan bahwa finansial masyarakat masih dalam tahap transisi pemulihan," papar Widi.

"Yang penting bagi mayoritas warga adalah menggugurkan kewajiban ibadah dan syiar kurbannya terpenuhi sesuai syariat," sambungnya.

​Menurut Widi, ceruk pasar untuk kelas menengah ke atas masih tetap eksis, namun polanya mengalami penyusutan dan hanya menyasar segmen khusus. 

"Untuk harga yang di atas paket ekonomis, pasarnya lebih beralih ke pelanggan loyal (loyal customers).

Mereka adalah konsumen tahunan yang memang secara finansial sudah mapan, terbiasa secara berkala memilih hewan kurban berkualitas super, dan tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi ekonomi jangka pendek," tambahnya.

​Meskipun pergerakan grafik penjualan merangkak landai, para pelaku usaha peternakan di Kota Tasikmalaya tetap menaruh optimisme tinggi.

 Karakteristik pasar last minute (menjelang hari H) diprediksi akan membawa lonjakan grafik penjualan yang tajam dalam beberapa hari ke depan.

​Melimpahnya pasokan yang diimbangi dengan pilihan harga yang realistis dan ramah kantong seperti yang disediakan Gudang Domba, diharapkan mampu menjadi jembatan agar ibadah kurban di Kota Resik tahun ini tetap berjalan semarak, sekaligus menjadi indikator positif bahwa denyut nadi perekonomian warga terus bergerak ke arah yang lebih sehat. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow