Tradisi Rasulan di Lereng Gunung Api Purba: Ekspresi Kebersamaan dan Syukur dalam Kirab
Ratusan warga Kalurahan Nglanggeran, Gunungkidul, menggelar tradisi Rasulan atau bersih desa. Rangkaian acara diisi dengan bersih makam, kirab tumpeng hasil bumi, hingga pentas seni Tayub.
GUNUNGKIDUL - Bagi masyarakat Kabupaten Gunungkidul, tradisi Rasulan kerap dianggap sebagai "lebaran ketiga" setelah Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Suasana yang tercipta menyerupai Hari Raya keagamaan, di mana warga desa yang merantau akan kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga, kerabat, dan tetangga guna merayakan ritus tahunan tersebut.
Di Kalurahan Nglanggeran, Kecamatan Patuk, rangkaian tradisi Rasulan dimulai sejak Jumat pagi (5/6/2026). Warga dari tiga pedukuhan bekerja sama melakukan aksi "Besik Makam", yakni membersihkan makam leluhur yang terletak di tengah desa. Tanpa perlu arahan khusus, warga bergerak secara kompak mengumpulkan sampah, menyapu area makam, hingga mencabut rumput liar dalam suasana kebersamaan.
Pada Minggu pagi (7/6/2026), ratusan warga dari tiga padukuhan di Kalurahan Nglanggeran—yaitu Padukuhan Nglanggeran Wetan, Nglanggeran Kulon, dan Gunungbuthak—berkumpul di pertigaan jalan utama desa untuk memulai kirab Rasulan.
Di sisi jalan dekat balai dusun, para perempuan berkumpul sambil membawa gulungan daun jati atau bakul berisi berbagai hidangan. Sementara itu, para pria sibuk mengatur arus lalu lintas dan memastikan barisan peserta kirab berjalan tertib. Acara kirab budaya ini dimulai tepat pukul 09.30 WIB.
Pikulan berisi tumpeng tersusun rapi di sepanjang jalan, siap dikirab. Lebih dari sepuluh meja tumpeng ditata dengan pelengkap berupa nasi berbentuk gunungan, ayam ingkung utuh, sayur, serta aneka sambal khas. Seluruh sesaji ini didoakan terlebih dahulu sebelum disantap bersama-sama di halaman terminal baru Desa Wisata Nglanggeran.
Puncak tradisi Rasulan dijadwalkan berlangsung keesokan harinya, Senin siang (8/6/2026), dengan suguhan pentas kesenian khas berupa tari Tayub atau Ledhek. Acara kemudian dilanjutkan pada malam hari dengan pengajian serta lantunan salawat.
Tradisi Turun-Temurun Berbasis Rasa Syukur
Sudut Desa Nglanggeran yang Indah. Perempuan berkumpul sambil membawa gulungan daun jati dalam bakul menjelang kirab Rasulan, Minggu, 7/6/2026, pagi. (Foto: Eko Susanto/TIMES Indonesia)
Tradisi Rasulan di Kalurahan Nglanggeran telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMK) Nglanggeran, Sudiyono (54).
“Tradisi Rasulan ini sudah ada sejak era nenek moyang dahulu, jauh sebelum Indonesia merdeka,” ujar Sudiyono kepada TIMES Indonesia di sela kegiatan bersih makam di Sasonoloyo Nglanggeran.
Pria yang menjabat sebagai Ketua LPMK Nglanggeran sejak tahun 2002 ini menegaskan bahwa Rasulan sesungguhnya merupakan tradisi untuk membersihkan lingkungan desa serta berbagi hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur atas panen yang melimpah. Rasulan juga menjadi momen penting untuk mempererat kebersamaan antarwarga.
Aktivitas utama dalam Rasulan meliputi pembersihan jalan, makam, sumber mata air, hingga kenduri sebagai sarana berbagi makanan yang telah didoakan bersama. Di wilayah Gunungkidul, tradisi serupa juga dikenal dengan nama bersih desa atau merti desa. Meski kemasannya beragam, inti tradisi tersebut tetap sama, yaitu menyampaikan rasa syukur dan menjaga harmoni antara manusia, alam, serta Tuhan Yang Maha Esa.
Warisan Para Penjelajah Hutan dan Ketahanan Sosial
Warga dari 3 padukuhan di Desa Nglanggeran turut serta melakukan Besik Makam pada Jumat, 5/6/2026, pagi di Sasonoloyo Nglanggeran. (Foto: Eko Susanto/TIMES Indonesia)
Di Desa Nglanggeran, tradisi Rasulan memiliki arti historis yang lebih mendalam. Penduduk lokal memandangnya sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur yang dahulu membuka hutan (babad alas) hingga terbentuk pemukiman. Dalam sejarah tutur yang diwariskan antar-generasi, keberadaan sumber mata air di kawasan Kalisong menjadi elemen penting dari awal mula kehidupan masyarakat Nglanggeran.
Oleh karena itu, dalam perayaan tahun ini, kegiatan juga menyasar pembersihan sumber mata air Kalisong sebelum berlanjut ke prosesi kirab. Salah satu keunikan tradisi Rasulan di Nglanggeran adalah keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Mulai dari anak-anak, pemuda, sesepuh, kelompok seni, hingga para perantau memiliki andil masing-masing.
Persiapan dilakukan jauh-jauh hari. Ada kelompok warga yang bertanggung jawab menyusun gunungan hasil bumi, mengatur konsumsi logistik, hingga mempersiapkan panggung pertunjukan seni budaya. Di tengah era modern, Rasulan menjadi ruang kultural di mana praktik gotong royong masih terwujud nyata dalam keseharian masyarakat desa.
Makna Arak-arakan Tumpeng Hasil Bumi
Prosesi gunungan hasil bumi menjadi momen yang paling dinantikan. Warga desa mengenakan busana tradisional saat hasil pertanian seperti sayur-mayur, palawija, buah-buahan, dan tanaman pangan lainnya disusun membentuk gunungan sebagai simbol kemakmuran.
Rute kirab mempertemukan warga dari berbagai penjuru. Warga Padukuhan Nglanggeran Wetan berkumpul di pertigaan depan balai dusun, menyatu dengan warga Padukuhan Nglanggeran Kulon. Sementara warga Padukuhan Gunungbuthak yang lokasinya lebih jauh, berkumpul di halaman balai dusun mereka sebelum bergabung dengan kelompok utama menuju terminal wisata Nglanggeran di pinggir jalan raya.
Menurut Sudiyono, komoditas hasil bumi yang diarak dalam kirab bukan sekadar pameran hasil panen. Lebih dari itu, setiap ikat padi, tongkol jagung, atau umbi ketela yang dibawa merupakan wujud konkret dari kerja keras, dedikasi, dan asisten kesakralan atas usaha berbulan-bulan para petani di ladang. (*)
Apa Reaksi Anda?