Lewat Dana Cukai, Pemkab Gresik Genjot Pemberdayaan Petani Tembakau

Seluruh program DBHCHT dirancang agar manfaatnya tidak berhenti pada bantuan fisik semata, tetapi mampu meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola usaha tani secara lebih efisien dan berdaya saing.

Juli 16, 2026 - 15:01
Lewat Dana Cukai, Pemkab Gresik Genjot Pemberdayaan Petani Tembakau

GRESIK - Memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), Pemkab Gresik, Jawa Timur menggenjot pemberdayaan petani tembakau di Kota Pudak.

Pembedayaan kepada petani tembakau itu terlihat di Pulau Bawean. Di bawah langit yang cerah, deretan tanaman tembakau tumbuh rapi mengikuti kontur lahan.

Dari sela-sela daun yang mulai membesar, para petani tampak tekun membersihkan gulma dan memastikan setiap tanaman mendapat ruang tumbuh yang baik.

Di Gresik, lahan pertanian tembakau tersebar luas di berbagai kecamatan, baik di kepulauan Bawean maupun di kecamatan lain di Gresik Daratan.

Flyer Gempur Rokok Ilegal (Foto: Diskominfo Gresik)
Flyer Gempur Rokok Ilegal (Foto: Diskominfo Gresik)


Dinas Petanian Dampingi Petani

Di balik aktivitas para petani tersebut, Pemkab Gresik melalui Dinas Pertanian terus menggulirkan berbagai program yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Tahun 2026 ini sejumlah kegiatan telah terealisasi, sementara beberapa program lainnya masih berlangsung dan akan dilaksanakan secara bertahap hingga akhir tahun anggaran.

Upaya tersebut diawali dengan pelatihan peningkatan kualitas bahan baku yang meliputi penguatan kapasitas sumber daya manusia senga. menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan bagi 40 peserta perwakilan kelompok tani.

Kemudian, bimbingan teknis budidaya dan pembibitan tembakau di wilayah Gresik Utara dan Gresik Selatan, pelatihan penguatan kelembagaan petani yang diikuti 35 peserta dari 30 kelompok tani, pelatihan pascapanen di enam lokasi.

kemudian, ada juga pelatihan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di enam lokasi, serta pelatihan pengembangan pola kemitraan yang melibatkan 100 petani tembakau.

Selain peningkatan kapasitas petani, DBHCHT juga diwujudkan melalui penyediaan sarana dan prasarana usaha tani. Sebanyak 39 kelompok tani menerima bantuan pupuk untuk lahan tembakau seluas 120 hektare, dengan alokasi 36 ribu kilogram pupuk ZA, 12 ribu kilogram pupuk ZK, dan 12 ribu kilogram pupuk SP-36 guna menjaga produktivitas tanaman.

Untuk memperkuat infrastruktur pertanian, Dinas Pertanian juga membangun empat unit sumur, terdiri atas dua unit untuk Gapoktan Jombangdelik dan dua unit untuk Gapoktan Brangkal di Kecamatan Balongpanggang.

Sementara itu, satu unit gudang penyimpanan direhabilitasi untuk Gapoktan Kedungsumber di Desa Kedungsumber, Kecamatan Balongpanggang, guna mendukung penyimpanan hasil panen yang lebih baik.

Pada penanganan pascapanen, bantuan peralatan juga mulai disalurkan. Sebanyak empat kelompok tani masing-masing menerima satu unit alat perajang tembakau, sehingga total disalurkan empat unit alat perajang.

Selain itu, empat kelompok tani juga memperoleh 400 unit alat jemur per kelompok, atau total 1.600 unit alat jemur, untuk meningkatkan kualitas proses pengeringan daun tembakau.

Dukungan mekanisasi pertanian turut diberikan melalui penyaluran dua unit handtraktor kepada satu kelompok tani, serta satu unit kendaraan roda tiga kepada satu kelompok tani sebagai sarana angkut saprodi dan hasil produksi tembakau.

Bantuan tersebut diharapkan mampu menekan biaya operasional sekaligus mempercepat distribusi hasil panen. Salah satu daerah yang pernah merasakan manfaat program tersebut pada tahun sebelumnya adalah Desa Gelam, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean.

Tembakau hasil panen petani Bawean (Foto: Diskominfo Gresik)
Tembakau hasil panen petani Bawean (Foto: Diskominfo Gresik)

Kepala Desa Gelam, Abdus Salam, menilai dukungan DBHCHT memberikan dampak nyata bagi kelompok tani di wilayahnya, terutama dalam meningkatkan semangat petani untuk terus membudidayakan tembakau.

Bantuan yang diberikan, kata dia sangat membantu petani kami, baik melalui peningkatan pengetahuan maupun penyediaan sarana pendukung usaha tani.

“Petani menjadi lebih percaya diri karena mendapatkan perhatian dan pendampingan. Kami berharap program seperti ini terus berlanjut agar pertanian tembakau di Bawean semakin berkembang dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya saat menunjukkan sumur bor bantuan DBHCHT di tengah area pertanian tembakau beberapa waktu yang lalu.

Kepala Dinas Pertanian Gresik, Eko Anindito Putro, mengatakan bahwa seluruh program DBHCHT dirancang agar manfaatnya tidak berhenti pada bantuan fisik semata, tetapi mampu meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola usaha tani secara lebih efisien dan berdaya saing.

"DBHCHT ini adalah program yang bagus. Sehingga dari hulu-hilirnya kita persiapkan. Mudah-mudahan dengan adanya pelatihan, bantuan alat, sarana-prasarana, infrastruktur, sampai dengan pasca-panennya ada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan karena kita mitrakan dengan produsen atau pabrikan di sekitar Gresik," ujarnya.

Menurut Eko, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh hasil panen yang melimpah, tetapi juga kemampuan petani dalam mengakses teknologi, membangun kerja sama usaha, serta mengelola hasil panen agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. 

"Bagi para petani di Gresik, setiap musim tanam bukan sekadar rutinitas bercocok tanam. Di balik setiap helai daun tembakau yang dirawat dengan telaten, tersimpan harapan akan kehidupan yang lebih baik," tutur Eko.

Melalui dukungan program DBHCHT yang terus berjalan sepanjang tahun 2026, harapan itu perlahan dibangun bukan hanya melalui bantuan, tetapi juga melalui peningkatan pengetahuan, penguatan kelembagaan, dan penyediaan sarana yang menjadi fondasi bagi pertanian tembakau yang semakin tangguh di Gresik. (ADVETORIAL)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow