Langkah Proaktif Pemkot Palangka Raya, Jaga Paru-Paru Kota Sebelum Musim Kemarau Tiba

"Kami sangat mengimbau warga untuk tidak menggunakan metode bakar dalam membersihkan lahan, karena di musim kemarau yang panjang dan kering nanti, api kecil bisa dengan cepat merambat menjadi karhutla

April 20, 2026 - 21:11
Langkah Proaktif Pemkot Palangka Raya, Jaga Paru-Paru Kota Sebelum Musim Kemarau Tiba

PALANGKA RAYA - Dalam rangka menghadapi siklus alam (Godzila El Nino) yang diprediksi lebih kering dan panas tahun ini, ‎Pemerintah Kota Palangka Raya (Pemkot Palangka Raya) sudah menyiapkan strategi antisipasi.

Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkot Palangka Raya mulai memperketat pengawasan terhadap potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

‎Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan data terkini, sepanjang Januari hingga April 2026, tercatat sudah ada 98 titik api yang muncul dengan total luas lahan terdampak mencapai sekitar 4 hektare.

Mayoritas titik api berada di kawasan padat penduduk seperti Kecamatan Jekan Raya dan Pahandut, serta wilayah pemekaran Sebangau. 

‎Plt Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi, menegaskan bahwa kesiapan personel dan strategi pencegahan kini menjadi prioritas utama sebelum status Siaga Darurat Karhutla resmi ditetapkan oleh Wali Kota.

‎Meski penetapan Satuan Tugas (Satgas) secara formal masih menunggu keputusan pimpinan, unit-unit teknis di lapangan tidak tinggal diam. Patroli mandiri sudah mulai rutin dilakukan oleh berbagai dinas terkait.

Hendrikus Satria Budi 2

‎"Sesuai instruksi, kami dari BPBD, DLH, Damkar, hingga Satpol PP terus bergerak melaksanakan patroli mandiri. Kita tidak menunggu api membesar, tapi fokus pada pemantauan dini di lapangan," ujar Hendrikus Satria Budi usai koordinasi di Kantor Pemkot Palangka Raya, Senin (20/4/2026).

‎Salah satu kekuatan utama Palangka Raya dalam menghadapi bencana tahunan ini adalah keberadaan Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana). 

‎Kelompok ini berfungsi sebagai perpanjangan tangan BPBD di setiap sudut kota untuk memberikan informasi cepat dan penanganan awal.

‎Sinergi antara TNI, Polri, dan instansi teknis ini diharapkan mampu memitigasi dampak kemarau yang menurut prakiraan BMKG akan mulai memasuki puncaknya pada minggu ketiga Mei mendatang.

‎Hendrikus juga menyoroti pola kebakaran yang terjadi belakangan ini. Fenomena yang sering ditemukan adalah kebakaran di lahan milik warga yang sedang dibersihkan.

‎"Dua hari saja tidak hujan, lahan yang sudah dibersihkan dan mengering itu sangat rapi untuk terbakar," ujarnya.

"Kami sangat mengimbau warga untuk tidak menggunakan metode bakar dalam membersihkan lahan, karena di musim kemarau yang panjang dan kering nanti, api kecil bisa dengan cepat merambat menjadi karhutla yang sulit dikendalikan," tambahnya.

‎Dengan masa kemarau yang diprediksi bertahan hingga Agustus, kesadaran kolektif antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama agar langit Palangka Raya tetap biru dan bebas asap sepanjang tahun 2026. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow