KSM-T UNISMA Olah Limbah Jagung Menjadi Briket Ramah Lingkungan di Desa Malangsuko
Malang, 16 Februari 2026, KSM-T UNISMA Kelompok 25 melaksanakan pelatihan pengolahan limbah jagung menjadi briket arang di Desa Malangsuko, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang
MALANG Malang, 16 Februari 2026, KSM-T UNISMA Kelompok 25 melaksanakan pelatihan pengolahan limbah jagung menjadi briket arang di Desa Malangsuko, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Senin (16/02/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan solusi inovatif berbasis potensi lokal melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
Desa Malangsuko merupakan salah satu wilayah dengan hasil panen jagung yang melimpah. Limbah berupa bonggol jagung selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan sering kali hanya dibuang atau dibakar. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KSM-T UNISMA menghadirkan pelatihan pembuatan briket sebagai bentuk penerapan konsep ekonomi sirkular di tingkat desa.
Briket jagung merupakan bahan bakar padat berbentuk blok yang dibuat dari bonggol jagung yang dikeringkan dan dihaluskan, kemudian dicampur dengan bahan perekat seperti tepung kanji, dipadatkan, dan dikeringkan. Produk ini memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, daya bakar yang tahan lama, serta menghasilkan asap lebih sedikit dibandingkan kayu bakar konvensional, sehingga lebih ramah terhadap lingkungan.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh Hans Davio dari Fakultas Teknik mengenai proses pembuatan serta keunggulan briket sebagai alternatif bahan bakar rumah tangga maupun usaha kecil. Setelah sesi teori, peserta langsung mempraktikkan tahapan pembuatan briket mulai dari penghalusan bahan, pencampuran, hingga proses pencetakan dan pengeringan.
Ketua KSM-T UNISMA Kelompok 25 menyampaikan bahwa program ini dirancang berdasarkan potensi desa. “Kami ingin menghadirkan solusi sederhana tetapi berdampak nyata. Limbah jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membantu mengurangi pencemaran lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Desa Malangsuko, Sutrisno, menyambut baik pelaksanaan pelatihan tersebut. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi petani. Kami menjadi lebih memahami bahwa limbah pertanian bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, briket ini berpotensi menambah pendapatan masyarakat,” tuturnya.
Antusiasme warga terlihat dari partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Selain memberikan manfaat ekonomi, pemanfaatan limbah jagung menjadi briket juga mendukung upaya pengurangan pembakaran limbah terbuka yang dapat mencemari udara.
Melalui sinergi antara mahasiswa KSM-T UNISMA, pemerintah desa, dan kelompok tani, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal pengembangan energi alternatif berbasis potensi lokal. Inovasi sederhana ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah yang tepat tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa. (*)
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/
*)Pewarta: Mahasiswa KSM-T Kelompok 25 Universitas Islam Malang (UNISMA)
Apa Reaksi Anda?