KSM-T UNISMA Hadirkan Solusi Alternatif Pakan Ruminansia untuk Tingkatkan Produksi Ternak

Mahasiswa KSM-T UNISMA Kelompok 26 melaksanakan sosialisasi dan praktik pembuatan silase pakan ternak ruminansia di Desa Malangsuko, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang

Februari 21, 2026 - 14:03
KSM-T UNISMA Hadirkan Solusi Alternatif Pakan Ruminansia untuk Tingkatkan Produksi Ternak

MALANG Mahasiswa KSM-T UNISMA Kelompok 26 melaksanakan sosialisasi dan praktik pembuatan silase pakan ternak ruminansia di Desa Malangsuko, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Senin (16/2/2026). Kegiatan ini bertujuan memberikan solusi alternatif dalam menjaga ketersediaan pakan ternak sekaligus meningkatkan produktivitas ternak melalui teknologi pengawetan hijauan yang sederhana dan terjangkau.

Ketersediaan hijauan pakan ternak di Desa Malangsuko sangat dipengaruhi oleh musim. Pada musim kemarau, jumlah dan kualitas hijauan sering menurun sehingga berdampak pada produktivitas ternak. Padahal, potensi bahan pakan seperti rumput, jagung, jerami padi, dan limbah pertanian lainnya cukup melimpah. Namun, bahan tersebut belum diolah secara optimal menjadi pakan tahan lama dan bernilai gizi tinggi. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KSM-T UNISMA menghadirkan pelatihan pembuatan silase sebagai solusi tepat guna.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh M. Abiyu As’ad dari Fakultas Peternakan (Fapet) UNISMA mengenai konsep dan manfaat silase sebagai pakan hasil fermentasi tanpa udara (anaerob) yang mampu mempertahankan kandungan nutrisi hijauan. Silase dinilai efektif karena dapat menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun, mengurangi pemborosan hijauan, serta menghemat biaya produksi peternak.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/

Sebagai langkah strategis awal, kegiatan difokuskan pada koordinasi dan penguatan kapasitas perangkat Desa Malangsuko sebelum implementasi lebih luas kepada masyarakat. Setelah sesi sosialisasi, mahasiswa melakukan demonstrasi tahapan pembuatan silase, mulai dari pencacahan hijauan berukuran 3–5 cm, pencampuran bahan tambahan seperti dedak, molase, dan EM4, hingga proses pemadatan dan fermentasi dalam wadah tertutup selama 3–7 hari. Perangkat desa turut terlibat aktif dalam praktik langsung guna memahami proses secara menyeluruh.

Selama sesi praktik, suasana kegiatan berlangsung interaktif. Perangkat desa tampak antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari proses pencacahan hijauan hingga teknik pemadatan bahan dalam wadah fermentasi. Diskusi berlangsung aktif, terutama terkait takaran bahan tambahan dan ketahanan silase saat musim kemarau. Antusiasme tersebut menunjukkan adanya ketertarikan untuk mengembangkan inovasi pakan ini secara berkelanjutan di Desa Malangsuko.

Kepala Desa Malangsuko menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. “Kegiatan ini memberikan wawasan baru bagi desa kami, terutama dalam menghadapi tantangan ketersediaan pakan saat musim kemarau. Kami berharap ilmu ini dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” ujarnya.

Ketua KSM-T UNISMA Kelompok 26 juga menyampaikan bahwa pelatihan silase ini merupakan bentuk pengabdian berbasis potensi lokal. “Kami ingin menghadirkan solusi yang sederhana namun berdampak nyata. Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di desa, peternak dapat lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada pakan pabrikan,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KSM-T UNISMA berharap terjalin kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam meningkatkan ketahanan pakan ternak. Pelatihan silase ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kemandirian peternak serta penguatan sektor peternakan di Desa Malangsuko. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/

*)Pewarta: Mahasiswa KSM-T Kelompok 26 Universitas Islam Malang (UNISMA)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow