Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Impor Energi Uni Eropa hingga Rp505 Triliun

Konflik Timur Tengah meningkatkan biaya impor energi Uni Eropa hingga 25 miliar euro dan memicu kenaikan harga bahan bakar global.

April 25, 2026 - 12:32
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Impor Energi Uni Eropa hingga Rp505 Triliun

JAKARTA - Konflik di Timur Tengah berdampak pada lonjakan biaya impor bahan bakar fosil Uni Eropa. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyebut kenaikan tersebut mencapai 25 miliar euro atau sekitar Rp505 triliun.

Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan informal para pemimpin Uni Eropa di Siprus pada Kamis–Jumat (24/5), yang membahas perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Ukraina, serta Kerangka Keuangan Multitahunan (MFF) periode 2028–2034.

“Setelah 55 hari konflik di Timur Tengah, dampaknya terasa nyata. Sejak awal konflik ini, tagihan impor bahan bakar fosil meningkat lebih dari 25 miliar euro tanpa adanya tambahan pasokan energi,” ujar von der Leyen.

Di tengah kondisi tersebut, Uni Eropa juga menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi tekanan ekonomi lebih lanjut, termasuk potensi kekurangan listrik akibat krisis energi. Namun, ia menilai situasi saat ini masih dapat dikendalikan.

Konflik meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pada 7 April, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Meski demikian, ketegangan di kawasan tersebut berdampak pada sektor energi global.

Peningkatan tensi geopolitik hampir menghentikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar dunia. Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di pasar internasional. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow