Kisah Mbah Marjiyono, Jemaah Haji Tertua yang Bahagia Bisa Sowan Kanjeng Nabi
Mbah Marjiyono (103), jemaah haji asal Yogyakarta, akhirnya mewujudkan impian berziarah ke Raudhah di Masjid Nabawi dengan penuh haru dan kebahagiaan.
MADINAH - Di usia yang telah menginjak 103 tahun, Mbah Marjiyono akhirnya menuntaskan satu impian terbesarnya: berziarah ke Raudhah, makam Nabi Muhammad SAW, di kompleks Masjid Nabawi, Madinah yang menjadi dambaan umat Islam dari seluruh dunia.
Jemaah haji asal Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu tampak haru usai menunaikan ziarah. Dengan suara lirih namun penuh kebahagiaan, ia berulang kali mengungkapkan rasa syukurnya.
“Seneng, sampunipun soan Kanjeng Nabi. Hati saya remen, Pak. Remen hati saya (Senang bisa berkunjung ke Kanjeng Nabi, Hati saya bahagia),” ujarnya sederhana, menggambarkan kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Bagi Mbah Marjiyono, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima. Lebih dari itu, ada kerinduan panjang untuk bisa berkunjung ke makam Nabi Muhammad SAW yang akhirnya terjawab di usia senja.
Ketua Kloter 9 Embarkasi Yogyakarta (YIA), Edy Purwanto, menyebut momen tersebut sebagai kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi Mbah Marjiyono, tetapi juga bagi seluruh rombongan. Sejak di Tanah Air, lanjutnya, Mbah Marjiyono telah menyampaikan keinginannya untuk berziarah ke Raudhah.
“Ini menjadi kebahagiaan bagi beliau. Di usia yang sangat lanjut, masih diberi kesempatan melaksanakan ibadah haji dan terutama bisa berziarah ke Raudhah. Itu sudah menjadi impian beliau sejak di Indonesia, dan akhirnya bisa terwujud,” kata Edy.
Mbah Marjiyono bersama petugas haji yang mengantarnya berziarah ke Raudhah, makam Nabi Muhammad SAW, di kompleks Masjid Nabawi, Madinah. (foto: Fahmi/MCH 2026)
Ia juga mengapresiasi perhatian dan layanan yang diberikan petugas kepada jemaah lanjut usia, termasuk Mbah Marjiyono, selama berada di Madinah.
Sementara itu, Kepala Sektor Khusus (Kaseksus) Nabawi, M. Thoriq, menjelaskan bahwa proses pemberangkatan jemaah menuju Raudhah dilakukan secara terorganisasi pada dini hari untuk memastikan kenyamanan dan kelancaran ibadah.
“Alhamdulillah, kami telah mengantar jemaah, termasuk Mbah Marjiyono dari kloter YIA 9. Beliau ini berusia 103 tahun dan menjadi salah satu jemaah tertua dari Indonesia,” ujarnya.
Menurut Thoriq, seluruh jemaah memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan. Namun, prioritas tetap diberikan kepada kelompok lansia dan disabilitas agar mereka dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman dan nyaman.
“Kami berharap seluruh jemaah, khususnya lansia, senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji hingga tuntas, serta kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat dan memperoleh haji mabrur,” tuturnya.
Kisah Mbah Marjiyono menjadi potret keteguhan iman sekaligus harapan yang tak lekang oleh usia. Di balik langkah yang kian terbatas, tersimpan keyakinan dan doa panjang yang akhirnya terjawab di Tanah Suci. Sebuah perjalanan spiritual yang bukan hanya tentang jarak, tetapi juga tentang kesabaran menunggu waktu terbaik untuk bertamu ke rumah-Nya dan berziarah ke Rasul-Nya. (*)
Apa Reaksi Anda?