Kisah Malik, Pengantar MBG ke Sekolah Terpencil di Bondowoso Tempuh Jalur Ekstrem
Rute distribusi makanan bergizi gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tak selalu mudah dilalui.
BONDOWOSO - Rute distribusi makanan bergizi gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tak selalu mudah dilalui. Jalan berbatu, tanjakan curam, hingga jalur sempit di tepi jurang menjadi tantangan yang harus dihadapi petugas distribusi setiap hari.
Kondisi tersebut dialami Abdul Malik, 29, petugas distribusi MBG dari SPPG Wringin II. Selama tiga bulan terakhir, ia rutin melintasi jalur ekstrem tersebut hampir setiap hari untuk mengantarkan makanan.
Meski jarak tempuh hanya sekitar 30 menit, perjalanan itu menurutnya cukup berisiko. “Sepanjang jalan batu semua. Ada tanjakan juga,” katanya, Selasa (28/4/2026).
Medan berat itu beberapa kali membuatnya terjatuh saat berkendara. Bahkan, dalam sehari ia mengaku bisa mengalami insiden serupa lebih dari satu kali.
Beruntung, hingga kini dirinya belum pernah mengalami cedera serius karena selalu sigap menyelamatkan diri saat motor kehilangan kendali.
“Belum pernah sampai luka. Biasanya saya langsung refleks lompat,” ujarnya.
Salah satu pengalaman paling menegangkan terjadi saat hujan turun. Jalan tanah bercampur batu menjadi licin sehingga kendaraan sulit dikendalikan. Saat mencoba mengerem, motornya justru tergelincir hingga membuatnya terjatuh.
“Pernah kepleset waktu hujan. Mau ngerem tapi licin, akhirnya jatuh,” kenangnya.
Situasi semakin berbahaya karena lokasi kejadian berada di jalur sempit dengan jurang di satu sisi dan tebing di sisi lainnya. Saat itu, ia harus mengambil keputusan cepat agar tidak terperosok ke jurang.
“Kalau saya jatuh ke kiri langsung jurang, jadi saya lompat ke kanan ke arah tebing,” tuturnya.
Abdul Malik mengatakan, ia menjalani pekerjaan itu seorang diri. Menurutnya, membawa muatan di medan sulit justru lebih merepotkan jika dilakukan berdua. “Kalau berdua malah lebih susah,” katanya.
Untuk menjaga makanan tetap aman selama perjalanan, ia menggunakan boks khusus yang dipasang di sepeda motornya.
Cara itu dipilih agar makanan tidak tumpah akibat guncangan di jalan rusak. “Kalau pakai ompreng pasti tumpah,” imbuhnya.
Motor yang dipakai untuk distribusi juga merupakan kendaraan operasional yang telah disediakan. Dalam sehari, ia membutuhkan sekitar tiga hingga empat liter bahan bakar untuk menjalankan tugasnya.
Meski harus menghadapi risiko di perjalanan, Abdul Malik tetap bertahan menjalani pekerjaannya.
Baginya, semangat untuk membantu anak-anak penerima manfaat menjadi alasan utama tetap menembus medan berat setiap hari.
“Kasihan anak-anak, mereka lebih membutuhkan,” pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?