Kirab Tombak Ki Plered, Menjaga Marwah Tradisi di Hari Jadi Ke 425 Kabupaten Tegal

Kirab Tombak Ki Plered memeriahkan Hari Jadi ke-425 Kabupaten Tegal. Tradisi sakral ini menjadi simbol penghormatan sejarah dan upaya menjaga warisan budaya leluhur.

Mei 18, 2026 - 15:31
Kirab Tombak Ki Plered, Menjaga Marwah Tradisi di Hari Jadi Ke 425 Kabupaten Tegal

TEGAL - Suara gamelan mengalun lirih di udara pagi ketika langkah demi langkah para peserta kirab mulai bergerak meninggalkan Rumah Dinas Bupati Tegal, Senin (18/5/2026). 

Di sepanjang jalan menuju Gedung kantor DPRD Pemerintah Kabupaten Tegal, masyarakat telah berdiri berjejer sejak pagi. Anak-anak duduk di pundak orang tuanya, para pelajar mengenakan seragam sekolah, sementara warga lanjut usia tampak khusyuk menyaksikan prosesi yang sudah menjadi bagian penting dari sejarah daerah itu.

Hari itu, pusaka Tombak Ki Plered kembali diarak dalam rangka Hari Jadi ke-425 Kabupaten Tegal. Bukan sekadar tradisi tahunan, kirab tersebut menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, budaya, dan rasa memiliki masyarakat terhadap warisan leluhur mereka.

Di tengah iring-iringan, sebuah kereta kencana berwarna keemasan menjadi pusat perhatian. Di atasnya, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman bersama sang isteri dan diikuti kereta kencana Wakil Bupati Ahmad Kholid mengikuti prosesi dengan sikap khidmat. 

Kehadiran keduanya memberi makna tersendiri bahwa pemerintah daerah tidak hanya menjalankan seremoni, tetapi juga menunjukkan penghormatan terhadap akar budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Sepanjang perjalanan, nuansa adat Jawa begitu terasa. Barisan pengawal berpakaian tradisional berjalan tertib mengiringi pusaka. Sesekali terdengar lantunan doa yang berpadu seakan menciptakan suasana sakral di tengah keramaian warga yang memadati sisi jalan.

Bagi masyarakat Kabupaten Tegal, Tombak Ki Plered bukan hanya benda pusaka. Tombak tersebut dipercaya menyimpan nilai sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjalanan daerah dan perjuangan masa lampau. 

Karena itu, kirab pusaka tidak pernah dipandang sebagai tontonan semata, melainkan simbol penghormatan terhadap sejarah yang membentuk identitas masyarakat Tegal hari ini.

Di antara kerumunan warga, banyak telepon genggam terangkat untuk mengabadikan momen ketika iring-iringan melintas. Namun di balik antusiasme itu, tersimpan makna yang lebih dalam. Tradisi kirab menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan sejarah kepada generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi.

“Kalau bukan kita yang menjaga budaya sendiri, siapa lagi?” ujar seorang peserta yang datang bersama rombongannya untuk mengikuti kirab peringatan Hari Jadi ke-425 Kabupaten Tegal.

Pernyataan itu seolah menggambarkan semangat masyarakat Kabupaten Tegal dalam menjaga tradisi agar tidak hilang dimakan zaman. 

Di era ketika kehidupan bergerak semakin cepat dan budaya luar begitu mudah masuk melalui teknologi, kirab pusaka menjadi pengingat bahwa masyarakat masih memiliki akar budaya yang kuat.

Momentum Hari Jadi ke-425 Kabupaten Tegal tahun ini juga menjadi refleksi perjalanan panjang daerah tersebut. Selama lebih dari empat abad, Kabupaten Tegal tumbuh dengan berbagai perubahan sosial, ekonomi, dan pembangunan. Namun di tengah perubahan itu, tradisi tetap dijaga sebagai penanda identitas daerah.

Usai mengikuti rapat paripurna di Gedung DPRD, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman  menyampaikan bahwa peringatan hari jadi bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Menurutnya, usia ke-425 menjadi momentum untuk terus memperbaiki pembangunan sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.

Pesan itu terasa selaras dengan makna kirab Tombak Ki Plered. Tradisi bukan hanya tentang menjaga peninggalan masa lalu, melainkan juga merawat nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, dan gotong royong yang diwariskan para leluhur.

Di tengah perkembangan zaman yang terus berubah, kirab pusaka menjadi bukti bahwa sejarah masih memiliki tempat di hati masyarakat Kabupaten Tegal.

Sebab dari tradisi seperti itulah sebuah daerah tidak hanya dikenal dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan diteruskan kepada generasi berikutnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow