Kini Amerika Serikat Ancam Meledakkan Sekutunya Oman, Ada Apa?

Presiden AS, Donald Trump mengancam akan meledakkan sekutunya, Oman jika terus berunding dengan Iran untuk menegaskan kendali atas Selat Hormuz.

Mei 28, 2026 - 07:31
Kini Amerika Serikat Ancam Meledakkan Sekutunya Oman, Ada Apa?

JAKARTA - Amerika Serikat sedang menebar ancaman kemana mana, dan kali ini akan meledakkan  Oman setelah negara itu sedang membicarakan penanganan Selat Hormuz dengan Iran.

Presiden AS, Donald Trump mengancam akan meledakkan sekutunya, Oman jika terus melanjutkan pembicaraan dengan Iran untuk menegaskan kendali atas Selat Hormuz.

Trump menyampaikan komentar tersebut dengan santai saat rapat kabinet, Rabu (27/5/2026) sore.

Saat rapat kabinet dilakukan di Gedung Putih di Washington itu, ia menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang akan mengendalikan jalur air Selat Hormuz. 

Presiden AS melontarkan ancaman tersebut setelah adanya laporan tentang pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengenaan biaya tol bersama untuk kapal-kapal yang melewati jalur perairan penting tersebut, yang hampir sepenuhnya ditutup sejak AS- Israel tiba-tiba menyerang Iran secara besar-besaran pada 28 Februari 2026.

"Selat itu akan terbuka untuk semua orang. Tidak ada yang akan mengendalikannya. Kami akan mengawasinya. Kami akan mengawasinya. Tetapi tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu bagian dari negosiasi yang kami lakukan," kata Trump.

Selat Hormuz yang biasanya menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia, telah diblokade oleh Iran sejak AS - Israel tiba-tiba menyerang Iran 28 Februari 2026 silam.

Serangan itu membunuh ribuan warga Iran termasuk Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, pejabat militer dan sipil Iran, ratusan siswi Iran yang sedang bersekolah, olahragawan, ilmuwan, peneliti dan lainnya. 

Dalam ancaman yang luar biasa, ia menambahkan: “Oman akan berperilaku seperti orang lain. Atau kita harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu. Mereka akan baik-baik saja.”

Upaya Trump dalam beberapa pekan terakhir untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran sejauh ini belum membuahkan hasil.

Selama pertemuan Rabu itu, Trump menuduh Iran coba mengulur waktu kesepakatan. "Iran 'menunggu saya' hingga pemilihan paruh waktu bulan November di AS," katanya.

Ketika Trump memberi sinyal bahwa dia hampir mencapai kesepakatan pada akhir pekan, para pendukung garis keras Partai Republik yang sebelumnya sangat mendukung keputusan kontroversialnya untuk memerintahkan perang terhadap Iran bersama Israel juga mengeluarkan kecaman kepadanya yang jarang terjadi

Bos Mafia

“Apakah Anda akan menerima kesepakatan jangka pendek yang memungkinkan Iran dan Oman untuk mengendalikan selat tersebut?” tanya wartawan kepada Trump kala itu.

Trump menjawab dengan ancaman yang tampaknya tanpa maksud serius. "Tidak ada yang akan mengendalikannya. Ini perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kita harus meledakkannya," jawab Trump.

Meskipun awalnya ada spekulasi bahwa Trump mungkin salah ucap dan mengatakan 'Oman' alih-alih 'Iran', Departemen Luar Negeri AS kemudian membagikan komentar tersebut di media sosial, dengan transkrip kutipan yang merujuk pada negara Arab tersebut.

Oman, yang dikenal karena netralitasnya, belum menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz.

Amerika Serikat dan Oman adalah sekutu dekat yang telah menjalin  hubungan  lebih dari 200 tahun.

Kedua negara ini memiliki berbagai perjanjian kerja sama, termasuk kemitraan keamanan, perjanjian perdagangan bebas, dan kesepakatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Oman sebelumnya berperan sebagai mediator kunci antara Amerika Serikat dan Iran dalam upaya mereka mencari solusi atas perang yang dimulai oleh AS-Israel pada 28 Februari.

Ancaman yang tampak dilontarkan Trump pada hari Rabu itu menyoroti semakin besarnya ketergantungan Oman pada kekuatan militer dalam kebijakan luar negerinya, sebuah strategi yang terkadang disebut 'diplomasi kapal perang'.

Namun para kritikus langsung mengecam ancaman Trump tersebut sebagai tindakan gegabah. Raed Jarrar,

Direktur Advokasi di Kelompok Hak Asasi Manusia DAWN yang berbasis di AS, Raed Jarrar menyatakan tindakan Trump itu gegabah dan menyamakan komentar Trump itu dengan komentar seorang 'bos mafia'.

"Piagam PBB melarang ancaman kekerasan terhadap negara mana pun, dan larangan itu mengikat Amerika Serikat persis seperti mengikat semua orang lain," kata Jarrar seperti disampaikan kepada Al Jazeera.

"Mengancam untuk 'meledakkan' sebuah negara Arab karena perairannya kebetulan berada di sepanjang jalur minyak yang ingin dibuka kembali oleh Amerika Serikat itu adalah logika melanggar hukum yang sama yang menghasilkan perang ini pada bulan Februari," tegas Jarrar.

" Ini sinyal paling jelas bahwa gencatan senjata apa pun yang ditengahi pemerintahan Trump hanya akan bertahan sampai presiden kehilangan kesabarannya lagi dalam rapat kabinet," sambungnya.

Ancaman Trump itu muncul setelah televisi pemerintah Iran melaporkan kerangka kerja nota kesepahaman (MOU) antara Iran dan Oman.

Draf memorandum tersebut dilaporkan akan memberikan kendali bersama antara Iran dan Oman untuk mengelola  Selat Hormuz. Namun, pemerintahan Trump menyebut laporan itu sebagai 'sebuah rekayasa sepenuhnya'.

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran utama untuk produk energi global dan pupuk pertanian. 

Selat Hormuz telah beroperasi sebagai jalur internasional bebas selama beberapa dekade. Sebagian jalur perairan tersebut melewati perairan teritorial Iran dan Oman.

Namun setelah Amerika Serikat dan Israel tiba-tiba membombardir Iran pada bulan Februari lalu, Iran menutup selat tersebut dan mulai menegaskan kedaulatannya atas selat itu.

Selama rapat kabinet kemarin, Trump mengulangi seruannya kepada negara-negara Arab dan muslim, termasuk Arab Saudi dan Qatar untuk menjalin hubungan formal dengan Israel sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata AS-Iran di masa mendatang.

Sebelumnya, selama masa jabatan pertamanya, Trump telah membantu menengahi apa yang disebut Kesepakatan Abraham untuk mendorong negara-negara Arab menjalin hubungan resmi dengan Israel.

Dorongan normalisasi itu kembali muncul dalam beberapa hari terakhir sebagai prioritas utama bagi Trump. Dia mengancam akan menarik diri dari negosiasi jika negara-negara Arab tidak menandatangani perjanjian tersebut.

"Jujur saja, saya rasa mereka berutang budi kepada kami,” kata Trump pada suatu momen selama diskusi meja bundar hari Rabu kemarin 

Dia kemudian menambahkan, “Sejujurnya, saya tidak yakin kami harus membuat kesepakatan jika mereka tidak menandatanganinya," ujar dia.

Donald Trump kemudian juga mengancam Oman, akan meledakkannya jika melanjutkan pembicaraan pengendalian  Selat Hormuz dengan Iran. (*) 

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow