Ketua MUI Probolinggo: Agama Tanpa Politik Terbatas, Politik Tanpa Agama Kehilangan Arah
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo, KH. Mohammad Sulthon, menyebutnya lebih dari sekadar simbol. Baginya, keduanya harus saling mengisi, bukan sekadar berdampingan.
PROBOLINGGO - Hubungan Ulama dan Umara kerap disebut sebagai dua sisi mata uang. Tapi di Bale Hinggil, Senin (25/5/2026), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo, KH. Mohammad Sulthon, menyebutnya lebih dari sekadar simbol. Baginya, keduanya harus saling mengisi, bukan sekadar berdampingan.
“Agama tanpa dukungan politik akan terbatas pengaruhnya dalam kehidupan sosial. Sebaliknya, politik tanpa nilai agama berpotensi kehilangan arah dan moral,” ujar KH. Mohammad Sulthon dalam Silaturahmi Daerah Ulama dan Umara bertajuk “Meneguhkan Sinergi Ulama dan Umara untuk Kota Probolinggo Aman dan Tentram”.
Pernyataan itu langsung menyedot perhatian para hadirin. Sebab, di tengah hiruk-pikuk tahun politik dan dinamika sosial, MUI justru memilih pendekatan lugas yakni ulama memberi nasihat dan tuntunan, umara menjalankan kebijakan dan keadilan. Keduanya tak bisa dipisahkan jika ingin masyarakat sejahtera.
Acara yang digelar MUI Kota Probolinggo itu dihadiri oleh Penjabat Sekretaris Daerah Rey Suwigtyo, Ketua DPRD Shinta Dwi Wardhani, jajaran Forkopimda, para kyai, tokoh agama, pimpinan ormas Islam, hingga Kepala Kantor Kementerian Agama dan Kementerian Haji dan Umrah. Suasana berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.
Pj. Sekda Rey Suwigtyo tak membantah pentingnya peran ulama. Dalam sambutannya, ia menyebut ulama sebagai mitra strategis pemerintah, bukan sekadar pelengkap seremonial. “Ulama tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga perekat umat dan penjaga moralitas bangsa. Ketika ulama dan umara berjalan beriringan, akan lahir kehidupan yang damai, sejahtera, dan penuh keberkahan,” ujar Rey.
Pemerintah Kota Probolinggo, berharap MUI terus menjadi garda terdepan dalam memberikan pencerahan, memperkuat moderasi beragama, menangkal hoaks dan ujaran kebencian, serta menjaga toleransi. Sebab, tanpa sinergi itu, kondusivitas daerah bisa rapuh.
Silaturahmi kali ini memang sengaja mengambil momentum jelang Iduladha, namun pesan yang disampaikan jauh lebih mendasar: komunikasi antara ulama, umara, dan masyarakat harus terus hidup. Bukan hanya saat ada masalah, tapi juga ketika keadaan aman.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi. Para kyai dan tokoh masyarakat bergantian menyuarakan harapan, sementara pemerintah mendengarkan. Bukan sekadar formalitas, tapi upaya nyata menjaga kota tetap tentram dari akar rumput.
“Melalui komunikasi yang baik dan sinergi yang kuat, keamanan dan ketentraman Kota Probolinggo dapat terus terjaga,” tutup Rey. (*)
Apa Reaksi Anda?