Kerusakan Pangkalan AS di Teluk Lebih Parah, Nasib Perang Iran Tunggu Keputusan Kongres

NBC News melaporkan kerusakan pangkalan AS di Teluk akibat serangan Iran lebih parah dari klaim resmi. Kelanjutan konflik menunggu keputusan Kongres 1 Mei 2026.

April 26, 2026 - 15:21
Kerusakan Pangkalan AS di Teluk Lebih Parah, Nasib Perang Iran Tunggu Keputusan Kongres

JAKARTA - Media Amerika Serikat, NBC News, melaporkan bahwa kerusakan pangkalan militer AS di kawasan Teluk disebut lebih parah dibandingkan yang disampaikan Presiden Donald Trump kepada publik. Laporan tersebut juga menyebut kelanjutan konflik dengan Iran bergantung pada keputusan Kongres Amerika Serikat pada 1 Mei 2026.

Dalam laporan yang dirilis Sabtu (26/4/2026), NBC News mengungkap bahwa pangkalan dan peralatan militer AS di kawasan tersebut mengalami kerusakan signifikan akibat serangan udara Iran, meskipun dilengkapi sistem pertahanan udara.

Laporan ini muncul hampir tiga minggu setelah Iran menghentikan serangan terhadap pangkalan AS di kawasan tersebut. Penghentian serangan terjadi setelah Pakistan memediasi gencatan senjata untuk meredakan ketegangan antara AS, Israel, dan Iran.

Sebelumnya, sejumlah laporan menyebutkan bahwa AS kehilangan peralatan militer bernilai tinggi, termasuk kerusakan pada sistem radar di pangkalan militer Al-Udeid di Qatar.

NBC News juga menyebut Iran menggunakan rudal, drone, serta jet tempur F-5 dalam serangan tersebut. Hal ini berbeda dengan pernyataan sebelumnya dari otoritas AS yang menyebut Iran tidak mengerahkan jet tempur dalam operasi tersebut.

Laporan tersebut mengutip sejumlah sumber, antara lain pejabat pemerintah AS, staf Kongres, dan pihak lain yang mengetahui situasi tersebut. Mereka memperkirakan biaya perbaikan kerusakan pangkalan di kawasan Asia Barat, termasuk negara-negara Teluk, mencapai miliaran dolar.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump kembali mengubah sikap terkait rencana serangan terhadap Iran dengan memperpanjang gencatan senjata secara sepihak. Ia menyebut langkah tersebut diambil karena kondisi internal kepemimpinan Iran dinilai belum solid.

Sementara itu, laporan Associated Press (AP) menyebut Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana kunjungan ke Pakistan untuk menghadiri pertemuan terkait upaya perdamaian dengan Iran.

Hingga saat ini, Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan AS. Di saat yang sama, ketegangan di kawasan masih berlangsung, termasuk insiden penembakan terhadap kapal kontainer di Selat Hormuz oleh pasukan Iran.

Kelanjutan kebijakan militer AS terhadap Iran kini menunggu keputusan Kongres Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 1 Mei 2026. Sebelumnya, Trump menyatakan akan melanjutkan operasi militer jika tidak tercapai kesepakatan sebelum batas waktu yang ditentukan, namun kemudian menunda rencana tersebut.

Di tengah situasi tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan pengerahan tiga kapal induk ke kawasan Timur Tengah, yakni USS Abraham Lincoln, USS Gerald R. Ford, dan USS George H.W. Bush. Ketiganya beroperasi secara bersamaan dengan dukungan lebih dari 200 pesawat tempur serta sekitar 15.000 personel militer.

Langkah ini disebut sebagai salah satu konsentrasi kekuatan militer terbesar AS di kawasan dalam beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, otoritas militer Iran melalui Markas Besar Khatam al-Anbia memperingatkan bahwa pihaknya siap merespons setiap tindakan yang dianggap sebagai agresi, termasuk aktivitas militer AS di wilayah perairan strategis seperti Selat Hormuz.

Situasi di kawasan hingga kini masih dinamis, dengan kedua pihak sama-sama menunjukkan kesiapan militer sambil menunggu perkembangan keputusan politik di Washington. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow