Kenapa Kita Lebih Konsumtif Saat Menjelang Lebaran? Ini Faktanya

Menjelang Lebaran, aktivitas belanja masyarakat biasanya meningkat signifikan. Mulai dari membeli pakaian baru, memperbarui perlengkapan rumah, hingga menyiapkan berbagai kebutuhan untuk menyambut kel

Maret 20, 2026 - 08:30
Kenapa Kita Lebih Konsumtif Saat Menjelang Lebaran? Ini Faktanya

JAKARTA Menjelang Lebaran, aktivitas belanja masyarakat biasanya meningkat signifikan. Mulai dari membeli pakaian baru, memperbarui perlengkapan rumah, hingga menyiapkan berbagai kebutuhan untuk menyambut keluarga dan tamu. Tanpa disadari, pengeluaran pun sering kali ikut meningkat dibandingkan bulan-bulan biasanya.

Fenomena ini sering dianggap sebagai bagian dari tradisi tahunan. Namun jika dilihat lebih jauh, perilaku konsumtif menjelang Lebaran sebenarnya dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial, ekonomi, dan psikologis yang membentuk cara masyarakat mengambil keputusan saat berbelanja.

Ramadan sebagai “Musim Belanja”

Peningkatan konsumsi selama Ramadan juga terlihat dari berbagai data industri ritel. Dilansir dari Katadata, riset Mandiri Spending Index mencatat aktivitas belanja masyarakat Indonesia meningkat sekitar 6,5% pada minggu ketiga Ramadan, lebih tinggi dibandingkan Ramadan tahun sebelumnya yang naik sekitar 5,4%.

Kenaikan ini terlihat pada sejumlah kategori produk. Belanja fesyen tercatat meningkat hingga 39,5%, sementara belanja supermarket naik sekitar 18,7%. Pembelian produk elektronik juga meningkat sekitar 9%, dan perlengkapan rumah tangga naik sekitar 6,3%.

Data tersebut menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga menjadi salah satu periode dengan aktivitas konsumsi tertinggi dalam setahun.

Efek THR dan Faktor Psikologis

Salah satu faktor yang mendorong lonjakan belanja menjelang Lebaran adalah Tunjangan Hari Raya (THR). Menurut laporan Mandiri Spending Index yang dikutip Katadata, aktivitas belanja masyarakat meningkat sekitar 7,1% setelah pencairan THR dibandingkan periode sebelumnya.

Dalam psikologi ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai mental accounting, yaitu kecenderungan seseorang memperlakukan uang berbeda tergantung dari sumbernya. Uang dari bonus seperti THR sering dianggap sebagai “uang tambahan”, sehingga lebih mudah dibelanjakan.

Selain itu, ada juga faktor self-reward behavior. Setelah menjalani satu bulan berpuasa dengan rutinitas yang lebih disiplin, banyak orang merasa ingin memberi penghargaan kepada diri sendiri. Bentuknya bisa berupa membeli pakaian baru, memperbarui perlengkapan rumah, atau membeli barang yang sudah lama diincar.

Belanja Bijak di Momen Lebaran

Meski aktivitas belanja meningkat, bukan berarti masyarakat harus terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan. Momen ini justru bisa dimanfaatkan untuk membeli barang yang lebih bernilai guna dan dapat digunakan dalam jangka panjang.

Misalnya, perangkat yang mendukung aktivitas sehari-hari seperti perlengkapan smart home, alat kopi untuk membuat kopi sendiri, atau lampu dekorasi rumah tangga inovatif. 

Dengan memilih produk yang lebih fungsional, belanja menjelang Lebaran bisa menjadi keputusan yang lebih bijak sekaligus bermanfaat dalam jangka panjang.

Manfaatkan Promo Lebaran dengan Lebih Hemat

Bagi yang ingin berbelanja lebih hemat, berbagai promo Ramadan juga mulai bermunculan di berbagai platform ritel. Salah satunya melalui promo spesial Edisi Lebaran dari JakartaNotebook, yang menghadirkan berbagai produk teknologi dan kebutuhan rumah tangga dengan harga yang lebih terjangkau.

Dengan memanfaatkan promo yang tepat, masyarakat tetap bisa menikmati momen belanja menjelang Lebaran tanpa harus menjadi lebih konsumtif. Sebaliknya, pengeluaran bisa diarahkan pada produk yang lebih bermanfaat, lebih tahan lama, dan tentu saja lebih worth it untuk digunakan setelah Ramadan berakhir. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow