Kemendukbangga Dorong Suami Lebih Aktif Dampingi Istri, Tak Sekadar Pencari Nafkah
Kemendukbangga meluncurkan Program Ayah Idaman untuk mendorong peran aktif suami dalam kehamilan, pengasuhan anak, dan keputusan kontrasepsi demi kesehatan ibu, bayi, serta pencegahan stunting.
PACITAN - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) mendorong keterlibatan suami dalam kesehatan reproduksi dan pengasuhan anak, tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus pemerintah dalam memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 melalui peluncuran program Ayah Idaman.
Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga, Wahidin, mengatakan kehadiran ayah perlu dimulai sejak masa kehamilan. Menurut dia, suami memiliki peran penting dalam mendampingi istri menjalani kehamilan, persalinan, hingga menentukan penggunaan kontrasepsi setelah melahirkan.
"Ayah wajib hadir. Kehadiran suami bukan hanya konteksnya mencari nafkah. Terkait pengasuhan dan seterusnya, ini menjadi bagian yang penting," kata Wahidin dalam media briefing bertajuk Sinergitas Program: Melibatkan Pria dalam Kesehatan Reproduksi yang digelar secara daring, Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, Kemendukbangga tengah mengubah pendekatan program keluarga berencana (KB) dengan mendorong partisipasi laki-laki secara lebih aktif. Selama ini, keterlibatan perempuan dalam program KB tetap menjadi perhatian, tetapi pemerintah menilai percepatan partisipasi pria juga perlu diperkuat.
"Yang partisipasi perempuan tetap kita bimbing. Tapi yang pria atau suaminya harus kita dorong lebih. Percepatannya harus lebih," ujarnya.
Sebagai langkah awal, Kemendukbangga akan meluncurkan program Ayah Idaman pada 1 Juli 2026 dengan melibatkan 1.000 bidan di berbagai daerah sebagai percontohan.
Melalui program tersebut, ibu hamil yang memeriksakan kandungan diharapkan datang bersama suami. Keduanya akan mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pendampingan selama kehamilan, persiapan persalinan, hingga penggunaan kontrasepsi setelah melahirkan.
Menurut Wahidin, keterlibatan suami sejak awal kehamilan penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi sekaligus menekan risiko kehamilan yang terlalu dekat setelah persalinan.
Ia menjelaskan, banyak kasus kehamilan terjadi kembali sebelum bayi berusia enam bulan karena pasangan belum segera menggunakan kontrasepsi setelah melahirkan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko stunting.
"Yang kita harapkan, suami mendampingi istrinya mulai pemeriksaan awal sampai melahirkan, kemudian bersama-sama memutuskan penggunaan kontrasepsi setelah persalinan," ujarnya.
Selain itu, edukasi kepada suami juga dinilai penting untuk menjaga kondisi psikologis ibu hamil. Menurut Wahidin, dukungan emosional dari pasangan berpengaruh terhadap kesehatan ibu maupun janin yang dikandung.
"Ketika istrinya hamil muda, peran suami sangat penting. Jangan sampai ada kekerasan, termasuk kekerasan nonfisik, karena itu bisa berdampak pada kondisi psikologis ibu dan bayi dalam kandungan," katanya.
Sementara itu, Direktur Bina Pelayanan Keluarga Berencana Wilayah dan Sasaran Khusus,dr. Fajar Firdawati menambahkan bahwa keterlibatan laki-laki juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan kesetaraan dalam kesehatan reproduksi.
Menurut dia, keputusan terkait penggunaan kontrasepsi semestinya tidak lagi dibebankan sepenuhnya kepada perempuan, melainkan menjadi keputusan bersama antara suami dan istri.
"Dalam perspektif kesetaraan, laki-laki dan perempuan memiliki hak serta tanggung jawab yang sama dalam pengambilan keputusan reproduksi. Kontrasepsi bukan hanya urusan perempuan," ujar Firda.
Ia mengungkapkan, hingga saat ini peserta KB di Indonesia masih didominasi perempuan. Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025, sebanyak 96,7 persen peserta KB merupakan perempuan, sedangkan peserta KB pria baru sekitar 3,3 persen.
Pilihan kontrasepsi bagi laki-laki saat ini masih terbatas pada penggunaan kondom dan vasektomi. Meski demikian, Kemendukbangga menargetkan peningkatan jumlah peserta KB pria sebagai salah satu indikator kinerja program keluarga berencana dalam lima tahun ke depan. (*)
Apa Reaksi Anda?