Kawal Fase Akhir di Madinah, PPIH Intensifkan Kunjungan Lansia dan Edukasi Fikih Arbain
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi kian memperketat pengawalan di lapangan jelang penutupan resmi operasional penyelenggaraan ibadah haji 2026.
JAKARTA - Menjelang penutupan resmi operasional penyelenggaraan ibadah haji 2026 yang menyisakan hitungan hari, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi kian memperketat pengawalan di lapangan.
Fokus pergerakan petugas kini dipusatkan pada kegiatan visitasi (kunjungan langsung) ke tiap kelompok terbang (kloter) guna menyisir kebutuhan jemaah lansia serta meluruskan pemahaman terkait ibadah Arbain.
Petugas Layanan Pembimbing Ibadah (Bimbad) Sektor 5 Daker Madinah, Hj. Nunung Khoiriyah, menegaskan bahwa skema visitasi ini memegang peranan krusial sebagai alat deteksi dini dalam memetakan kendala yang dihadapi jemaah di pemondokan.
"Visitasi merupakan satu hal yang sangat penting karena menjadi instrumen dalam manajemen pelayanan haji. Melalui visitasi, kami bisa melihat dan memetakan persoalan yang ada di kloter, sekaligus menjadi ruang komunikasi antara petugas haji dengan ketua regu (Karu) dan ketua rombongan (Karom)," urai Hj. Nunung usai menggelar sosialisasi di Hotel Mirage Taiba, Madinah, Selasa (23/6/2026) kemarin.
Nunung membeberkan, komposisi jemaah haji Indonesia tahun ini didominasi oleh kaum perempuan sebesar 55 persen, di mana 25 persen dari total tersebut masuk dalam kategori lanjut usia.
Tingginya angka jemaah risti (risiko tinggi) ini menuntut kesigapan intervensi layanan, terutama dalam penyediaan kursi roda serta pengawalan antrean masuk ke dalam Raudhah.
"Jemaah haji Indonesia sekitar 55 persen merupakan perempuan dan sekitar 25 persennya adalah lansia. Lansia menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk kebutuhan pendampingan dan penggunaan kursi roda," tambahnya.
Di sisi lain, menyikapi ambisi jemaah yang kerap memaksakan diri mengejar salat berjamaah tanpa putus di Masjid Nabawi, Pembimbing Ibadah Kloter SUB 104 Surabaya, Toha Saifuddin, memberikan pandangan fikih yang lebih longgar dan kontekstual. Hal ini penting agar jemaah tidak mengalami kelelahan fisik ekstrem akibat sengatan cuaca panas Madinah.
Toha menjelaskan bahwa makna esensial dari hadis Arbain sejatinya adalah melangsungkan 40 kali salat di Masjid Nabawi, sehingga jemaah bisa mengombinasikannya dengan salat-salat sunah tanpa harus mematok diri pada salat fardu delapan hari berturut-turut jika kondisi fisik sedang menurun.
"Supaya jemaah tetap termotivasi, kami memilih memahami hadis tersebut secara tekstual, yaitu 40 kali salat. Jadi selain salat wajib, ada salat sunah seperti salat dhuha, hajat, taubat, dan tahajud yang diharapkan dapat memenuhi makna hadis Arbain," papar Toha menjabarkan alternatif ibadah yang aman.
Ia mengingatkan jemaah bahwa menjaga keselamatan jiwa (hifdzun nafs) merupakan salah satu prinsip utama dalam syariat Islam yang tidak boleh dikorbankan demi mengejar ibadah sunah.
"Kita memang wajib beribadah kepada Allah, tetapi Allah juga memerintahkan kita untuk menjaga kesehatan dan fisik. Ibadah membutuhkan kondisi tubuh yang prima. Kalau badan sakit, ibadah pun tidak akan optimal dan sulit merasakan kekhusyukan," tegas Toha.
Menutup imbauannya, Toha meminta jemaah yang masih berada di Madinah untuk melipatgandakan konsumsi air putih guna menghalau dehidrasi di tengah kelembapan udara yang rendah di Arab Saudi.
"Kalau di Indonesia kebutuhan air sekitar dua liter per hari, di sini bisa lebih dari itu, sekitar tiga sampai empat liter, agar tubuh tetap segar dan siap beribadah kepada Allah SWT," pungkasnya.(*)
Apa Reaksi Anda?