Kasus Bunuh Diri di Kota Batu Kurun Waktu 2023 hingga Sekarang, Jembatan Kembar Cangar Jadi Sorotan

Sejumlah kasus bunuh diri yang terjadi di Kota Batu dalam kurun waktu 2023 hingga April 2026 menjadi perhatian publik.

April 23, 2026 - 15:35
Kasus Bunuh Diri di Kota Batu Kurun Waktu 2023 hingga Sekarang, Jembatan Kembar Cangar Jadi Sorotan

BATU - Sejumlah kasus bunuh diri yang terjadi di Kota Batu dalam kurun waktu 2023 hingga April 2026 menjadi perhatian publik. Berdasarkan data yang diperoleh, kasus terjadi dengan beragam metode dan lokasi, mulai rumah tinggal, area pemakaman, hingga kawasan Jembatan Kembar di jalur Cangar yang belakangan menjadi sorotan karena kejadian berulang.

Dalam empat tahun terakhir, Kecamatan Bumiaji tercatat menjadi wilayah yang paling sering muncul dalam pemberitaan kasus serupa. Faktor pemicu diduga beragam, mulai persoalan keluarga, tekanan psikologis, hingga masalah pribadi.

Tahun 2023, peristiwa yang paling menyita perhatian terjadi pada 24 September 2023. Seorang pria bernama Mujiono, warga Dusun Beru, Kecamatan Bumiaji, diduga menusuk istrinya di Desa Pandanrejo akibat cemburu, sebelum pulang ke rumah dan ditemukan meninggal dunia.

Petugas kepolisian menyebut korban perempuan selamat dan menjalani perawatan medis. Polisi mendalami motif persoalan rumah tangga yang melatarbelakangi kejadian tersebut. Kasus tersebut menjadi perhatian karena melibatkan kekerasan dalam rumah tangga yang berujung hilangnya nyawa pelaku.

Memasuki 2024, sedikitnya dua kasus bunuh diri mencuat pertama pria ditemukan tewas di area pemakaman pada 30 Mei 2024, seorang pria berinisial UI (36/37), warga Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, ditemukan meninggal dunia di area pemakaman umum Dusun Krajan.

Korban sebelumnya pamit kepada istrinya untuk mencari pekerjaan, namun tak kunjung pulang. Keesokan harinya warga menemukan korban dalam kondisi meninggal di lokasi pemakaman.

Kasus berikutnya terjadi pada 31 Agustus 2024 di Kecamatan Bumiaji. Seorang remaja perempuan berinisial AF (17) ditemukan meninggal dunia di rumah saat orang tuanya baru pulang.

Polisi menyebut pintu rumah terkunci dari dalam. Keluarga yang curiga kemudian mengecek dari jendela dan menemukan korban di area dapur. Korban sempat dibawa ke tenaga kesehatan, namun tidak tertolong. 

Lalu, tahun 2024, pada 1 Desember 2024, seorang pemuda berinisial E sekitar 21 tahun ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Desa Beji, Kecamatan Junrejo. Korban pertama kali ditemukan tetangga depan rumah dan kemudian dilaporkan ke pemerintah desa serta kepolisian.  

Kasus kembali terjadi pada 3 November 2025 di Kecamatan Bumiaji. Seorang pria berinisial RYP (30) ditemukan meninggal dunia di dalam kamar rumahnya oleh sang ayah.

Peristiwa diketahui saat keluarga hendak membangunkan korban, namun pintu terkunci dari dalam. Polisi menyatakan tidak ditemukan unsur pidana dalam kejadian tersebut.

Selanjutnya, tahun 2026 menjadi periode yang paling banyak dibicarakan, terutama terkait kawasan Jembatan Kembar di jalur Cangar, Kecamatan Bumiaji.

Pada 31 Maret 2026, seorang pemuda berinisial MMA (24), warga Mojokerto, ditemukan meninggal dunia di bawah Jembatan Kembar. Polisi menemukan sepeda motor dan barang pribadi di atas jembatan.  

Kurang dari sebulan kemudian, 23 April 2026, kembali ditemukan mayat pria di bawah Jembatan Kembar. Saat laporan awal diterima polisi, identitas korban masih dalam proses penyelidikan. Dua kejadian beruntun dalam waktu singkat membuat kawasan tersebut menjadi perhatian serius masyarakat Kota Batu.

Psikolog dan pemerhati sosial menilai kasus bunuh diri tidak bisa dilihat sebagai persoalan tunggal. Tekanan ekonomi, konflik keluarga, perundungan, relasi pribadi, serta gangguan mental yang tidak tertangani dapat menjadi faktor risiko.

"Karena itu, pemerintah daerah kami dorong pemerintah bisa memperkuat layanan psikolog di puskesmas, edukasi kesehatan mental di sekolah, patroli titik rawan, serta kampanye agar masyarakat berani mencari bantuan," urai Sayekti Pribadiningtyas, Kamis (23/4/2026).

Jika seseorang tampak sangat tertekan, menarik diri, atau sering berbicara putus asa, dukungan keluarga dan bantuan profesional sangat penting agar kondisi tidak memburuk.

"Pendampingan dan tempat mencurahkan keluh kesah sangatlah penting agar kekecewaan atau keluhannya bisa tersalurkan serta tidak memendam sendiri," tuturnya.(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow