Jembatan Sentong Bondowoso Tutup Total Membuat Sejumlah Jalan Alternatif Padat

Jembatan Sentong di Jalan Mastrip Nangkaan ambruk dan ditutup total. Warga keluhkan jalur alternatif yang jauh dan macet.

Februari 24, 2026 - 15:00
Jembatan Sentong Bondowoso Tutup Total Membuat Sejumlah Jalan Alternatif Padat

BONDOWOSO Jembatan Sentong di Jalan Mastrip Nangkaan akhirnya ambruk pada Senin sore (23/2/2026), setelah sebelumnya dilaporkan mengalami keretakan sejak Desember lalu. 

Runtuhnya jembatan tersebut memaksa pemerintah menutup total akses lalu lintas demi alasan keselamatan.

Keputusan penutupan diambil usai rapat koordinasi yang digelar tim gabungan pada Senin malam. 

Hasilnya, Jembatan Sentong dinyatakan tidak layak dilintasi seluruh jenis kendaraan, baik roda dua, roda empat, maupun kendaraan berat.

Kasi Pembangunan dan Peningkatan Jalan UPT PJJ Jember Dinas PU Bina Marga Jawa Timur, Budi Hartono menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan setelah insiden adalah mengalihkan arus lalu lintas sepenuhnya.

“Jembatan sudah tidak memungkinkan dilewati kendaraan apa pun. Demi keselamatan, akses harus ditutup total,” ujarnya.

Penutupan tersebut membuat arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif yang telah disiapkan. Sejumlah petugas dibantu warga setempat tampak berjaga di sekitar lokasi untuk menghentikan pengendara yang hendak melintas dan mengarahkan mereka ke rute pengganti.

Namun, kebijakan itu memicu keluhan dari masyarakat. Ervan, warga Kelurahan Tamansari, mengaku harus menempuh jarak lebih jauh dari biasanya. 

Selain memakan waktu, kondisi jalur alternatif yang sempit dan padat membuat konsumsi bahan bakar meningkat.

“Muternya jauh, jalannya juga macet. BBM jadi lebih boros,” keluhnya saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026). 

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah perbaikan, mengingat arus lalu lintas diperkirakan meningkat menjelang musim mudik Lebaran.

“Sebentar lagi masuk masa mudik. Biasanya ramai, apalagi banyak warga luar kota datang. Harus ada solusi cepat,” tegasnya.

Keluhan serupa disampaikan Wahyudi, warga Desa Kejawan, Kecamatan Grujugan. Sejak penutupan jembatan, arus kendaraan di sekitar permukimannya melonjak drastis hingga sering terjadi kemacetan.

“Sekarang mau menyeberang jalan saja harus menunggu lama,” katanya.

Hingga kini, pemerintah masih menyiapkan langkah penanganan lanjutan untuk memastikan akses transportasi warga dapat kembali normal secepat mungkin.(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow