Jejak Sejarah: Hotel Palm Bondowoso Dulunya Rumah Seorang Dokter Belanda
Hotel Palm Bondowoso, bekas rumah dokter Belanda tahun 1930, dan Gedung Inspektorat peninggalan 1920, masih berdiri kokoh. Arsitektur kolonialnya jadi daya tarik sejarah di pusat kota.
BONDOWOSO Di tengah perkembangan kota yang terus berubah, sejumlah bangunan tua di Kabupaten Bondowoso masih menyimpan jejak sejarah masa kolonial. Salah satunya adalah Hotel Palm Bondowoso yang dikenal sebagai salah satu hotel tertua di daerah tersebut.
Jika dilihat sekilas, bangunan hotel ini tampak berbeda dibandingkan hotel modern pada umumnya. Arsitekturnya masih mempertahankan gaya kolonial Belanda yang khas, terutama pada bagian fasad depan bangunan yang menampilkan bentuk simetris, jendela besar, serta detail ornamen klasik.
Saat memasuki area resepsionis, suasana tempo dulu terasa cukup kuat. Interior hotel menampilkan sejumlah elemen arsitektur lama yang seolah membawa pengunjung kembali ke masa kolonial Belanda.
Berbagai ornamen yang masih dipertahankan menjadi pengingat bahwa bangunan ini memiliki sejarah panjang sebelum berubah fungsi menjadi hotel.
Berdasarkan sejumlah catatan sejarah, bangunan Hotel Palm Bondowoso dulunya merupakan rumah tinggal keluarga dokter Belanda yang bertugas di Bondowoso.
Rumah tersebut diperkirakan sudah dihuni sejak sekitar tahun 1930, ketika wilayah Bondowoso masih berada di bawah pemerintahan kolonial.
Pada masa itu, kawasan sekitar kota belum seramai sekarang. Bangunan-bangunan masih jarang berdiri, sehingga rumah tersebut menjadi salah satu hunian elite yang ditempati pejabat dan kalangan terpandang Belanda.
Arsip mengenai bentuk asli bangunan serta aktivitas penghuni Belanda di lokasi tersebut kini tersimpan oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari dokumentasi sejarah kota.
Lokasi hotel ini juga tergolong sangat strategis karena berada di pusat kota. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari Alun-Alun Bondowoso sehingga pengunjung dapat menjangkaunya dengan berjalan kaki.
Saat ini, hotel tersebut menyediakan berbagai tipe kamar dengan harga yang cukup variatif, mulai dari sekitar Rp300 ribu hingga Rp700 ribu per malam.
Selain menjadi tempat menginap, bangunan ini juga kerap menarik perhatian pengunjung yang tertarik dengan nuansa arsitektur kolonial.
Tak hanya bangunan hotel, sejumlah rumah peninggalan Belanda di Bondowoso juga telah beralih fungsi menjadi kantor pemerintahan.
Salah satu contohnya adalah gedung Inspektorat Kabupaten Bondowoso yang juga menempati bangunan lama peninggalan masa kolonial.
Gedung yang kini digunakan sebagai kantor pengawasan internal pemerintah daerah tersebut diperkirakan dibangun sekitar tahun 1920.
Pada masa kolonial, bangunan itu difungsikan sebagai rumah tinggal pejabat dan orang-orang kaya Belanda yang menetap di Bondowoso.
Arsitektur gedung ini memiliki ciri khas tersendiri. Pada bagian sisi kanan dan kiri bangunan terdapat bentuk segi lima yang membuat tampilannya tampak unik dan berbeda dari bangunan perkantoran modern saat ini.
Desain tersebut merupakan salah satu ciri arsitektur kolonial yang banyak digunakan pada bangunan hunian elite pada masa itu.
Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan tetap dimanfaatkan untuk aktivitas pemerintahan. (*)
Apa Reaksi Anda?