Donald Trump: Serangan di Masjid San Diego Mengerikan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut serangan yang dilakukan dua remaja terhadap Pusat Islam di San Diego itu sebagai "situasi yang mengerikan".

Mei 19, 2026 - 12:31
Donald Trump: Serangan di Masjid San Diego Mengerikan

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut serangan yang dilakukan dua remaja terhadap Pusat Islam di San Diego itu sebagai "situasi yang mengerikan".

"Saya telah menerima beberapa informasi awal, tetapi kami akan kembali dan menelitinya dengan sangat cermat," katanya ketika ditanya tentang situasi tersebut.

Lima orang tewas termasuk dua pelaku terorisme, Cain Clark (17) dan Caleb Vazquez (18). Tiga orang pria, satu diantaranya adalah petugas keamanan masjid yang menurut para pejabat memainkan peran penting dalam membatasi jumlah korban jiwa di Islamice Center of San Diego itu.

Cain Clark bersekolah secara daring dan dijadwalkan lulus bulan ini, kata seorang juru bicara Distrik Sekolah Terpadu San Diego.

"Clark tidak pernah mengikuti kelas di Madison High School, yang berjarak sekitar 1 mil dari Pusat Islam. "Tetapi ia tinggal di zona sekolah tersebut dan bisa saja mengikuti kelas disana jika ia mau," kata juru bicara James Canning.

"Clark memang bergulat di Madison selama musim 2024-2025," kata Canning.

"Dia mengikuti program High Virtual Academy di distrik tersebut dan seharusnya lulus bulan ini," tambah Canning.

Polisi mengatakan, dua pelaku terorisme itu mati bunuh diri setelah melakukan serentetan tembakan di kawasan pusat Islam masjid San Diego.

Kepala Polisi San Diego, Scott Wahl mengatakan bahwa peristiwa itu adalah "mimpi buruk terburuk bagi setiap komunitas."

Salah satu pria itu adalah seorang petugas keamanan yang menurut Wahl "berperan penting" dalam mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.

"Pada titik ini, saya rasa adil untuk mengatakan bahwa tindakannya heroik," kata Wahl. "Tidak diragukan lagi, dia menyelamatkan nyawa hari ini," tambahnya.

Wahl mengatakan bahwa "retorika kebencian" terlibat dalam penembakan tersebut, yang menurutnya sedang diselidiki sebagai kejahatan kebencian. Para penyelidik sedang memeriksa kemungkinan tulisan anti-Islam yang ditemukan di dalam mobil para remaja tersebut, kata dua pejabat penegak hukum senior.

Sementara itu Direktur dan imam Pusat Islam San Diego, Taha Hassane pmemohon kepada masyarakat untuk menyebarkan toleransi dan kasih sayang, bukan kebencian.

Hassane berbicara pada konferensi pers siang hari tentang serangan mematikan di institusinya kemarin pagi, dan ia mengecam kondisi yang bisa menciptakan kekerasan semacam itu.

"Komunitas saya sedang berduka," katanya. "Intoleransi beragama dan kebencian yang sayangnya ada di negara kita belum pernah terjadi sebelumnya," ujar dia.

Ia menyarankan agar warga Amerika bisa membalikkan permusuhan dengan mendorong toleransi. "Hal itu perlu dilakukan. Demi bangsa ini, demi generasi mendatang," tegasnya.

"Kita semua bertanggung jawab untuk menyebarkan budaya toleransi, budaya kasih sayang," tambahnya.

Walikota San Diego, Todd Gloria, juga mengecam kekerasan yang didorong oleh kebencian dan mengatakan bahwa siapa pun yang terlibat dalam hal itu di kotanya akan menghadapi "kekuatan penuh" dari penegak hukum setempat.

"Tidak seorang pun di kota kita seharusnya hidup dalam ketakutan karena identitas, keyakinan, atau tempat belajar mereka," katanya pada konferensi pers hari ini.

Ia menyesalkan bahwa serangan itu terjadi selama musim liburan yang penting bagi agama Islam.

"Kebencian tidak punya tempat di San Diego," kata Gloria. "Islamofobia tidak punya tempat di San Diego. Kami tidak akan mentolerirnya," tegasnya.

Bahkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump juga menyebut serangan yang dilakukan dua remaja terhadap Pusat Islam di San Diego itu sebagai "situasi yang mengerikan".(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow