Jalur Nganguk-Pentil Rembang Rusak Parah, Mobilitas Warga Terhambat

Meski sempat dilakukan pengurukan tanah sebagai upaya darurat, perbaikan tersebut tidak bertahan lama.

Februari 27, 2026 - 15:30
Jalur Nganguk-Pentil Rembang Rusak Parah, Mobilitas Warga Terhambat

REMBANG Kondisi infrastruktur di wilayah Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, kembali dikeluhkan.

Jalan yang menghubungkan Dukuh Nganguk dan Dukuh Pentil di Desa Gunungsari dilaporkan ambles dengan kerusakan yang cukup masif.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (27/2/2026), kerusakan jalan tersebut mencapai kedalaman hampir satu meter dengan panjang sekitar 20 meter.

Meski sempat dilakukan pengurukan tanah sebagai upaya darurat, perbaikan tersebut tidak bertahan lama. Tanggul beton penahan tanah di sisi barat jalan bahkan terlihat ambrol dan bergeser dari posisi semula.

Akibat kerusakan ini, arus lalu lintas menjadi tersendat. Kendaraan roda empat yang melintas harus bergantian (buka-tutup) karena sebagian badan jalan tidak bisa dilalui.

Walaupun terdapat jalur alternatif, warga lebih memilih jalan ini karena jarak tempuh yang lebih singkat menuju pusat Kota Rembang.

Marwan, salah satu pengguna jalan, mengungkapkan bahwa kerusakan ini terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras sekitar satu bulan yang lalu.

"Ini ambrol sudah sebulanan lebih, pas hujan besar itu. Dulu sudah pernah ambles juga terus diperbaiki, tapi sekarang ambles lagi. Memang tanahnya sepertinya labil karena di samping parit," ujar Marwan.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Khoirul, warga setempat. Ia menyoroti minimnya penerangan jalan yang meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara di malam hari.

"Membahayakan kalau malam karena gelap. Sudah ada beberapa pengendara yang jatuh karena tidak tahu jalannya ambles," ungkapnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) mengakui adanya kendala teknis terkait karakteristik tanah di lokasi tersebut.

Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Rembang, Nugroho Tri Hutomo, menjelaskan bahwa fenomena tanah gerak menjadi penyebab utama jalan tersebut kembali rusak meskipun telah diperbaiki sebelumnya.

Sehingga pada tahun 2026 ini pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran induk sebesar kurang lebih Rp 440 juta untuk penanganan menyeluruh.

Rencana penanganan itu mencakup perbaikan badan jalan serta pembangunan tanggul penahan yang akan segera dilaksanakan setelah kondisi cuaca membaik.

"Tahun ini akan ditangani lagi. Penanganan tanggul sekaligus termasuk jalannya. Kami menunggu cuaca membaik agar hasilnya lebih maksimal," pungkas Nugroho. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow