Inovasi BUMDes Sukosari Lor, Kelola Pasar hingga Dongkrak PADes Puluhan Juta
Perjalanan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukosari Lor, Kabupaten Bondowoso menunjukkan bagaimana pengelolaan desa yang tepat mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
BONDOWOSO - Perjalanan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukosari Lor, Kabupaten Bondowoso menunjukkan bagaimana pengelolaan desa yang tepat mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Berawal dari pengelolaan pasar tradisional, kini BUMDes tersebut berkembang ke berbagai sektor usaha dan berkontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).
BUMDes yang dikenal dengan nama Bumdes Sukosari Jaya ini berdiri pada 2018. Pada tahap awal, mereka hanya diberi mandat untuk mengelola Pasar Sukosari.
Meski terkesan sederhana, langkah tersebut menjadi pondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi desa.
Ketua Bumdes Sukosari Jaya, Agus Prayudi mengungkapkan, perubahan paling mencolok terlihat dari peningkatan retribusi pasar. Jika sebelumnya hanya Rp500, kini meningkat menjadi Rp2.000 per pedagang.
Kenaikan tersebut kata dia, berdampak langsung pada peningkatan pendapatan desa.
“Dulu PADes hanya sekitar Rp5 juta per tahun. Sekarang sudah bisa mencapai Rp30 juta hingga 2025,” ujarnya.
Seiring meningkatnya pendapatan, BUMDes mulai melakukan ekspansi usaha. Pada 2019, mereka mendapatkan tambahan modal dari desa untuk mengembangkan fasilitas baru berupa rest area bagi wisatawan yang melintas menuju kawasan wisata Kawah Ijen. Di lokasi tersebut juga dibangun pujasera yang kini menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.
Rest area ini tak hanya menjadi tempat singgah, tetapi juga membuka peluang usaha bagi masyarakat. Belasan pedagang menggantungkan penghasilan di kawasan tersebut, sementara di pasar utama, sekitar 120 pedagang kini dapat berjualan dengan lebih tertata dan nyaman.
Namun, dalam perjalanannya, pengelolaan pasar tidak lepas dari tantangan. Salah satu persoalan yang dihadapi adalah keberadaan pedagang liar yang berjualan di trotoar. Untuk mengatasi hal tersebut, BUMDes menggandeng berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, hingga aparat keamanan seperti kepolisian dan TNI.
“Penertiban memang sempat mendapat penolakan, tapi akhirnya bisa berjalan dengan baik berkat kerja sama semua pihak,” jelas Agus, Jumat (10/4/2026).
Tak berhenti di sektor perdagangan dan jasa, Bumdes Sukosari Jaya kini juga mulai merambah program ketahanan pangan sebagai upaya memperluas lini usaha dan memperkuat ekonomi desa.
Meski telah mencatat berbagai capaian, keterbatasan modal masih menjadi tantangan utama. Pihak BUMDes berharap adanya dukungan lebih lanjut dari pemerintah agar pengembangan usaha bisa berjalan lebih optimal.
Dengan berbagai inovasi dan pengembangan yang dilakukan, BUMDes Sukosari Lor menjadi contoh nyata bagaimana desa mampu “naik kelas” melalui pengelolaan usaha yang profesional dan berkelanjutan. (*)
Apa Reaksi Anda?