Ini Kesaksian Mahasiswa Asal Bondowoso di Iran Saat Situasi Perang Berlangsung
Setelah lebih dari tiga tahun menempuh pendidikan di Iran, Abdullah, mahasiswa asal Bondowoso, akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia melalui program repatriasi yang difasilitasi Kementerian
BONDOWOSO - Setelah lebih dari tiga tahun menempuh pendidikan di Iran, Abdullah, mahasiswa asal Bondowoso, akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia melalui program repatriasi yang difasilitasi Kementerian Luar Negeri RI.
Mahasiswa berusia 25 tahun itu tiba di Bondowoso pada 16 April 2026 setelah sebelumnya menjalani perjalanan panjang dari Iran. Keputusan pulang diambil bukan karena kondisi di tempat kuliahnya dianggap berbahaya, melainkan karena permintaan orang tuanya yang khawatir dengan situasi perang di negara tersebut.
Abdullah saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester enam di Imam Khomeyni Specialized University, Kota Qom, Iran. Sejak konflik pecah, ia sebenarnya tetap berniat bertahan karena ingin menyelesaikan studi strata satu hingga tahun 2027.
Menurutnya, kondisi di Kota Qom masih relatif aman dibanding wilayah lain di Iran. Karena merasa situasi tidak terlalu mengkhawatirkan, ia sempat memilih tidak mendaftarkan diri dalam program repatriasi yang dibuka Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
“Saya pikir konfliknya tidak akan berlangsung lama, mungkin hanya sekitar 10 hari. Ternyata berlanjut,” ujarnya di sela-sela Podcast di PWI Bondowoso, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, aktivitas akademik di kampus sempat dihentikan selama sepekan setelah perang pecah, bertepatan dengan masa berkabung nasional atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran.
Setelah itu kata dia, perkuliahan dilanjutkan secara daring dan kembali normal secara tatap muka usai Idul Fitri. “Pendidikan sebenarnya tetap berjalan seperti biasa,” katanya.
Di awal konflik, Abdullah juga sempat kesulitan berkomunikasi dengan keluarga di Bondowoso karena pemerintah Iran membatasi akses internet internasional. Saat itu, hanya layanan internet lokal dan aplikasi domestik yang bisa digunakan.
Meski demikian, komunikasi antar mahasiswa Indonesia di Iran tetap terjaga. KBRI juga aktif memantau kondisi warga negara Indonesia melalui grup WhatsApp.
Abdullah baru bisa menghubungi keluarganya sekitar dua minggu setelah perang pecah melalui sambungan telepon langsung. “Kalau dari Indonesia tidak bisa menelepon ke kami,” ungkapnya.
Ia menuturkan, selama berada di Qom dirinya hanya dua kali melihat rudal melintas. Situasi tersebut berbeda jauh dengan kondisi di Teheran yang disebutnya hampir setiap hari mengalami serangan.
Keputusan untuk pulang akhirnya diambil setelah ibunya terus meminta agar ia kembali ke Indonesia demi keselamatan.
Perjalanan repatriasi dimulai dari Kota Qom menuju Baku, Azerbaijan, melalui jalur darat menggunakan bus selama sekitar sembilan jam. Setelah pendataan ulang di Baku, para WNI dipulangkan secara bertahap melalui penerbangan transit di Turki menuju Jakarta.
Setibanya di Indonesia, Abdullah melanjutkan perjalanan ke Surabaya sebelum akhirnya dipulangkan ke Bondowoso dan tiba di Kantor Dinsos P3AKB Bondowoso, tempat ia dijemput keluarganya.
“Perjalanan darat aman karena saat itu sedang berlangsung gencatan senjata,” jelasnya.
Meski telah kembali ke tanah air, Abdullah mengaku tetap berencana kembali ke Iran apabila situasi sudah benar-benar aman agar bisa menuntaskan pendidikannya.
Sementara itu, ayah Abdullah, Muhammad Ridho Al Khaf, mengaku hanya bisa memantau kondisi anaknya melalui pemberitaan dan informasi dari Himpunan Pelajar Indonesia di Iran saat konflik pecah.
Ia mengaku sempat cemas, namun tetap berusaha tenang karena komunikasi terakhir dengan Abdullah menunjukkan kondisi anaknya baik-baik saja.
Ridho sebenarnya menyerahkan keputusan kepada putranya untuk tetap tinggal atau pulang. Namun, sang istri terus mendesak agar Abdullah kembali ke Indonesia.
“Lebih baik Abdullah pulang dulu untuk menenangkan hati ibunya, sementara cuti dulu,” pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?