Imbas Data Keliru, Lansia di Kota Banjar Alami Lonjakan Desil Hingga Kehilangan Bantuan

Melonjaknya posisi ekonomi Karsono di data pemerintah dari Desil 2 (sangat miskin/miskin) melompat ke Desil 9 (mendekati mampu/mampu) diduga kuat akibat ketidaksesuaian pendataan fisik di lapangan (ex

Juli 24, 2026 - 15:32
Imbas Data Keliru, Lansia di Kota Banjar Alami Lonjakan Desil Hingga Kehilangan Bantuan

BANJAR - Cerita pilu akibat ketidaksesuaian data kemiskinan kembali terjadi. Karsono (67), warga lanjut usia (lansia) di RT 04 RW 14 Lingkungan Tanjung Sukur, Kelurahan Hegarsari, Kota Banjar, harus menerima kenyataan tak lagi terdaftar sebagai penerima bantuan lansia akibat lonjakan drastis peringkat desil.

Kini, Karsono hanya mengandalkan bantuan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) yang terakhir ia terima sekitar Mei atau Juni lalu. Padahal, status ekonomi lansia yang sudah tak lagi bekerja sebagai kuli bangunan ini jauh dari kata mampu.

Kesalahan Pendataan Lapangan jadi Pemicu

Usut punya usut, melonjaknya posisi ekonomi Karsono di data pemerintah dari Desil 2 (sangat miskin/miskin) melompat ke Desil 9 (mendekati mampu/mampu) diduga kuat akibat ketidaksesuaian pendataan fisik di lapangan (existing). 

Dalam catatan sistem, status hunian Karsono didaftarkan dengan kondisi lantai sudah dikeramik dan rumah berstatus milik pribadi.

Padahal kenyataannya, lantai rumah belum dikeramik sama sekali dan status tempat tinggal bukan milik pribadi, melainkan menumpang di rumah adik kandungnya. 

"Lantai rumah disebut sudah keramik padahal belum. Rumah juga milik adik, saya di sini hanya menempati. Dulu saya kerja bangunan, tapi sekarang sudah tidak ada yang mengajak kerja, mungkin karena faktor usia," ujar Karsono. 

Kesalahan data pendukung inilah yang membuat skor kesejahteraannya melonjak, sehingga sistem mendeteksi Karsono tak lagi layak menerima skema bantuan khusus lansia.

Lurah Hegarsari: Data Sistem Beda dengan Realita Lapangan

Menanggapi gejolak desil yang meresahkan warga, Lurah Hegarsari, Angga Tri Permana, membenarkan adanya dinamika dan pergeseran data desil yang cukup signifikan jika dibandingkan antara periode Juli 2024 dan Juli 2025. 

Ia mengakui masih menemukan ketidaksesuaian antara kondisi nyata masyarakat di lapangan dengan data yang tercantum dalam sistem kementerian.

  • Kendala Akses Data: Pihak kelurahan saat ini tidak memiliki akses langsung secara >by name by address untuk memantau perubahan detail status tiap warga.
  • Pergeseran Desil Signifikan: Sebagai gambaran, jumlah warga di Desil 1 pada data 2024 berjumlah 292 jiwa, sementara pada data 2025 melonjak menjadi 345 jiwa.

"Kaitan dengan kondisi existing, memang masih ada ketidaksesuaian antara fakta di lapangan dengan perubahan yang ada di sistem>," ungkap Angga.

Langkah Kelurahan: Bersurat ke Dinas Sosial

Agar fenomena salah sasaran dan perubahan desil ini tidak menjadi polemik yang makin berlarut di tengah masyarakat, Pihak Kelurahan Hegarsari menyatakan telah mengambil langkah resmi. 

Pihak kelurahan telah mengirimkan surat kepada Dinas Sosial setempat untuk mengoordinasikan perbaikan data existing warga, sekaligus meminta kejelasan mekanisme evaluasi desil agar bantuan sosial tepat sasaran kepada warga yang benar-benar membutuhkan seperti  Karsono. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow