Iklim Investasi Kota Bontang Terus Bergairah, Sektor UMK Dominasi Penerbitan NIB di Awal 2026
Iklim investasi Bontang kian positif awal 2026, tercermin dari 657 NIB baru melalui OSS. Didominasi UMK dan PMDN, bukti kepercayaan tinggi pada kemudahan berusaha dan layanan perizinan digital.
BONTANG - Iklim investasi dan kemudahan berusaha di Kota Bontang, Kalimantan Timur, menunjukkan tren yang semakin positif pada awal 2026. Berdasarkan data terbaru dari dasbor Online Single Submission (OSS), sebanyak 657 Nomor Induk Berusaha (NIB) baru diterbitkan sepanjang periode 1 Januari hingga 30 April 2026.
Capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya aktivitas ekonomi sekaligus tingginya minat masyarakat dan pelaku usaha dalam membangun bisnis di kota industri tersebut. Pertumbuhan jumlah NIB dinilai memperlihatkan optimisme terhadap iklim investasi yang semakin kondusif serta efektivitas layanan perizinan berbasis digital yang diterapkan pemerintah daerah.
Data OSS mencatat, sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK) mendominasi penerbitan perizinan usaha dengan persentase mencapai 99,7 persen. Sementara itu, sektor non-UMK hanya berkontribusi sebesar 0,3 persen.
Dominasi UMK ini mencerminkan meningkatnya aktivitas kewirausahaan lokal dan mengindikasikan bahwa ekonomi masyarakat bergerak melalui berbagai sektor riil seperti perdagangan, jasa, kuliner, hingga usaha kreatif lainnya.
Di sisi investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih menjadi penyumbang utama dengan porsi sebesar 99,7 persen. Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar 0,3 persen.
Tingginya angka PMDN menunjukkan kepercayaan investor domestik terhadap prospek ekonomi Bontang, termasuk peluang integrasi antara industri besar yang telah berkembang dengan sektor usaha pendukung yang terus tumbuh.
Pemerintah Kota Bontang juga terus memperkuat pelayanan perizinan melalui sistem OSS dengan pendekatan perizinan berbasis risiko. Berdasarkan klasifikasi tingkat risiko usaha, mayoritas proyek berada pada kategori risiko rendah sebesar 63,2 persen.
Selanjutnya, kategori menengah rendah tercatat sebesar 20,7 persen, menengah tinggi 12,5 persen, dan risiko tinggi sebanyak 3,7 persen.
Skema klasifikasi ini dinilai memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha sekaligus mempermudah proses pengawasan pemerintah berdasarkan tingkat risiko masing-masing kegiatan usaha.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur, mengatakan meningkatnya penerbitan NIB bukan sekadar angka administratif, melainkan indikator kepercayaan publik terhadap ekosistem investasi di daerah.
“Lonjakan penerbitan NIB di awal tahun 2026 ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa kepercayaan publik terhadap iklim investasi di Bontang berada di level tertinggi. Kami telah memangkas sekat birokrasi melalui sistem OSS dan perizinan digital agar pelaku usaha, dari skala mikro hingga besar, merasa aman dan nyaman,” ujarnya, kemarin.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Bontang berupaya menghadirkan sistem layanan yang cepat, transparan, dan memberi kepastian hukum bagi investor.
“Bontang tidak lagi hanya menunggu bola, kami adalah rumah yang siap menyambut investor dengan karpet merah dan kepastian hukum yang jelas,” tambahnya.
Menurut Aspian, pertumbuhan jumlah NIB dalam empat bulan pertama 2026 merupakan hasil konsistensi pemerintah daerah dalam menjalankan kebijakan deregulasi yang mendukung investasi.
Selain memperkuat sektor UMKM, Pemkot Bontang juga terus membuka peluang investasi di sektor industri pengolahan, jasa, hingga perdagangan. Didukung sistem OSS yang semakin matang, infrastruktur yang berkembang, serta posisi strategis sebagai kota pelabuhan, Bontang dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan Timur. (*)
Apa Reaksi Anda?