Hujan Lebat dan Wereng Hantam Pertanian Rembang, Puluhan Hektar Padi di Kaliori Rusak
Cuaca ekstrem dan serangan wereng di Desa Gunungsari, Rembang, merobohkan puluhan hektar padi. Petani rugi, kesulitan panen, dan mendesak bantuan combine harvester.
REMBANG Cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang disertai angin kencang melanda wilayah Kabupaten Rembang dalam beberapa hari terakhir. Dampaknya, puluhan hektar tanaman padi di Dukuh Ngumpleng, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, dilaporkan ambruk. Kondisi ini diperparah dengan penurunan produktivitas akibat serangan hama wereng yang datang bersamaan dengan cuaca buruk tersebut.
Salah satu petani terdampak, Sunardi, mengungkapkan kesedihannya saat melihat kondisi sawahnya yang kini rata dengan tanah. Padahal, hanya tiga hari sebelumnya, tanaman padi miliknya masih berdiri kokoh dan siap untuk dipanen.
"Kemarin itu hujan lebat sekali disertai angin. Padahal Rembang biasanya jarang hujan. Baru tadi saya cek, ternyata tanaman padi saya sudah ambruk. Selain faktor angin, ternyata ada serangan hama wereng yang membuat batang padi tidak sehat," ujar Sunardi saat ditemui di lokasi, Sabtu (28/2/2026).
Menurut Sunardi, serangan wereng ini tergolong sangat cepat. Petani seringkali baru menyadari tanaman mereka terserang hama saat usia padi sudah memasuki masa panen. Akibat kombinasi cuaca dan hama ini, hasil panennya diprediksi merosot tajam. Jika biasanya dalam kondisi normal ia mampu meraup 1 ton padi, kini ia memperkirakan hanya bisa membawa pulang sekitar 6 hingga 7 kuintal saja.
Masalah tidak berhenti pada rusaknya tanaman. Sunardi mengaku kesulitan dalam proses evakuasi padi yang ambruk. Di era pertanian modern saat ini, tenaga manusia untuk memanen secara manual (gepyok) sudah sangat sulit ditemukan.
"Sekarang cari orang buat bantu panen itu sulit sekali, bukan soal bayaran, tapi memang orangnya tidak ada. Semua sudah bergantung pada mesin Combine Harvester," jelasnya.
Namun, kendala besar muncul karena kelompok tani di Desa Gunungsari belum memiliki mesin pemanen (combine) sendiri. Selama ini, para petani harus mengantre dan menyewa mesin dari luar daerah seperti Demak atau Pati dengan biaya sewa mencapai Rp350.000 per kotak.
Menyikapi kerugian ini, para petani yang tergabung dalam Gapoktan SAWI LESTARI menyampaikan dua aspirasi utama kepada Pemerintah Kabupaten Rembang. Pertama, mereka mendesak adanya pendampingan teknis yang lebih proaktif dari penyuluh lapangan terkait penanggulangan hama wereng agar petani tidak lagi "kecolongan" di masa mendatang.
Kedua, bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) berupa mesin combine harvester menjadi kebutuhan mendesak yang diimpikan warga. Ketergantungan pada mesin sewa dari luar kabupaten sering kali menghambat waktu panen dan menambah biaya operasional petani.
"Kami ingin ketahanan pangan di Rembang tercapai dan petani sejahtera sesuai harapan Presidn. Oleh karena itu, kami mohon bantuan fasilitas panen diprioritaskan untuk kami di Desa Gunungsari," pungkas Sunardi.(*)
Apa Reaksi Anda?