HPI Jatim: Konflik Timur Tengah Picu Pembatalan Wisatawan ke Bali dan Jawa Timur
Konflik Timur Tengah berdampak pada pembatalan penerbangan ke Bali dan kunjungan wisatawan Eropa ke Jawa Timur. Pelaku industri dorong penguatan promosi dan pasar domestik.
BATU Dampak konflik di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan sektor pariwisata Indonesia. Sejumlah penerbangan internasional menuju Bali dilaporkan batal, disusul pembatalan kunjungan wisatawan asal Eropa ke Jawa Timur.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku industri wisata terhadap potensi penurunan kunjungan akibat gejolak global.
Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jawa Timur, Sujai Asmed, mengatakan situasi konflik berdampak langsung terhadap arus wisatawan mancanegara yang selama ini menjadi pasar utama.
"Imbasnya sudah mulai terasa. Ada pembatalan penerbangan ke Bali dari maskapai internasional, dan beberapa tamu Eropa yang biasanya melanjutkan kunjungan ke Jawa Timur juga membatalkan perjalanan. Ini tentu berdampak pada anggota kami yang meng-handle wisatawan tersebut," ujarnya saat dihubungi, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, gangguan rute penerbangan internasional yang melintasi kawasan Timur Tengah menyebabkan biaya tiket meningkat, sehingga wisatawan menjadi lebih selektif dalam memilih destinasi.
Selain itu, peringatan perjalanan (travel warning) dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis turut memengaruhi psikologis wisatawan global.
"Ketidakpastian keamanan dan kondisi ekonomi global juga menjadi faktor. Konflik bisa memicu kenaikan harga minyak dan inflasi, sehingga daya beli wisatawan menurun," katanya.
Sujai menambahkan, situasi ini harus direspons dengan strategi adaptif. Indonesia, lanjutnya, justru berpeluang menjadi destinasi alternatif yang dinilai aman dan stabil di tengah ketegangan geopolitik.
"Indonesia bisa menonjolkan diri sebagai destinasi yang aman dan kondusif. Ini momentum untuk memperkuat promosi," tegasnya.
DPD HPI Jawa Timur mendorong pemerintah dan pelaku industri untuk fokus menggarap pasar negara-negara yang relatif stabil, seperti kawasan ASEAN, Australia, China, dan Asia Timur. Selain itu, penguatan wisata domestik dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Eropa dan Timur Tengah.
"Kita tidak boleh hanya bergantung pada wisatawan mancanegara. Pengembangan wisata domestik harus terus ditingkatkan agar sektor ini tetap bertahan," jelasnya.
Meski konflik global berpotensi menekan sektor pariwisata, pelaku industri berharap situasi tidak berlangsung lama. Promosi destinasi aman dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas kunjungan wisatawan ke Indonesia, khususnya Jawa Timur.
"Semoga semua lekas membaik," tutupnya.(*)
Apa Reaksi Anda?