Hasil Tani Warga Diserap Dapur MBG, Petani Kota Batu Kini Bahagia
Program MBG di Kota Batu berdampak pada ekonomi petani dengan menyerap produk lokal dan menjaga harga panen tetap stabil.
BATU - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batu mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Salah satunya melalui peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyerap berbagai produk lokal sebagai bahan baku harian.
Komoditas yang diserap meliputi sayur, buah, telur, daging, hingga bumbu dapur. Kondisi ini dirasakan langsung oleh petani setempat.
Adi, petani asal Desa Giripurno, mengaku kini lebih bersemangat bertani karena hasil panennya terserap pasar dengan harga yang relatif stabil.
“Saat ini hasil pertanian saya berupa andewi selalu dibeli oleh BUMDes. Informasi yang saya dapat, hasil tersebut dijual ke dapur-dapur MBG di Kota Batu. Harga panen juga stabil, bisa mencapai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Dulu hanya sekitar Rp3 ribu dan sering merugi,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Hal serupa disampaikan Budi, petani asal Desa Sumberejo. Ia menyebut hasil panen seledri kini lebih mudah terjual dibandingkan sebelumnya.
“Dulu sering kesulitan menjual hasil panen karena harga anjlok. Sekarang hasil panen selalu terserap, bahkan sebelum panen sudah ada pembeli,” katanya.
Sebelumnya, Wali Kota Batu Nurochman mengimbau seluruh dapur MBG untuk memprioritaskan penggunaan komoditas lokal. Kebijakan ini bertujuan memperkuat ekonomi masyarakat serta membuka pasar bagi petani, pelaku UMKM, dan BUMDes.
Salah satu SPPG yang aktif menjalankan kebijakan tersebut adalah SPPG Temas 1. Kepala SPPG Temas 1, Elmico Duta Amordiaz, mengatakan pihaknya telah menggandeng UMKM, BUMDes, dan unsur Kelurahan Temas sejak awal operasional pada 26 Januari 2026.
“Sejak awal kami bekerja sama dengan UMKM, BUMDes, dan unsur kelurahan. Bahan baku yang kami gunakan meliputi sayur, buah, telur, daging, bahan kering, serta bumbu dapur,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan komoditas lokal juga sejalan dengan arahan Badan Gizi Nasional (BGN) agar dapur MBG mengoptimalkan potensi pangan di wilayah masing-masing.
“BGN mendorong pemanfaatan potensi lokal, seperti apel, jeruk, atau komoditas lain yang tersedia di daerah. Karena itu, kami memprioritaskan buah lokal,” katanya.
Sejumlah komoditas yang rutin digunakan antara lain apel, jeruk, pisang, kentang, wortel, sawi, seledri, andewi, pakcoy, dan buncis. Bahan tersebut diolah untuk memenuhi kebutuhan ribuan penerima manfaat setiap hari.
Saat ini, kebutuhan harian SPPG Temas 1 mencapai sekitar 110 kilogram buah dan 110 kilogram sayur. Pasokan tersebut digunakan untuk melayani 2.113 penerima manfaat di tujuh sekolah di wilayah Temas.
Selain menyerap hasil pertanian, program ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Dari total 39 relawan yang terlibat, sekitar 80 persen berasal dari Kelurahan Temas.
“Kami juga memastikan kualitas bahan baku tetap terjaga. Buah dan sayur yang digunakan harus memenuhi standar mutu agar makanan yang disajikan layak konsumsi,” ujar Elmico.(*)
Apa Reaksi Anda?