Hashtag #AlpineDivorce Viral, Tren Putus Diatas Gunung

Hashtag #AlpineDivorce viral di media sosial. CNN mengungkap tren kencan berbahaya di mana pasangan ditinggalkan di lokasi ekstrem seperti gunung.

April 26, 2026 - 22:02
Hashtag #AlpineDivorce Viral, Tren Putus Diatas Gunung

JAKARTA - Fenomena baru di dunia kencan digital tengah menjadi sorotan global. Hashtag #AlpineDivorce viral di media sosial seperti TikTok dan Instagram, memicu kekhawatiran tentang keselamatan dalam hubungan romantis.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana dinamika hubungan modern semakin dipengaruhi oleh budaya digital yang serba cepat dan viral. Di era media sosial, istilah baru seperti #AlpineDivorce dapat dengan mudah menyebar dan membentuk persepsi publi.

Bahkan tidak jarang banyak orang belum memahami konteks dan dampaknya secara menyeluruh namun sudah mengikuti tren tersebut. Tren ini bukan hanya mencerminkan perubahan cara orang berkomunikasi dalam hubungan, tetapi juga menyoroti sisi gelap dari interaksi manusia yang kerap tersembunyi di balik konten viral.

Apa Itu Alpine Divorce?

Alpine divorce merujuk pada situasi ketika seseorang (umumnya pria) meninggalkan pasangannya di lokasi terpencil seperti gunung atau jalur pendakian. Korban biasanya berada dalam kondisi rentan, baik karena kurang pengalaman, minim perlengkapan, atau kondisi alam yang ekstrem.

Fenomena tersebut juga diigadang-gadang sebagai acara putus hubungan ekstrem. Umumnya, tanpa komunikasi yang jelas pasangan akan langsung meninggalkan pasangan dalam situasi berbahaya.

Berawal dari Kasus Nyata

Tren ini semakin ramai dibicarakan setelah kasus di Austria menjadi perhatian publik. Dilansir dari CNN, seorang pria dilaporkan meninggalkan pacarnya di gunung tertinggi Austria hingga korban meninggal karena hipotermia. Kasus ini kemudian memicu diskusi luas dan membuat banyak perempuan membagikan pengalaman serupa di media sosial. 

Sejak itu, berbagai cerita bermunculan mulai dari ditinggalkan saat mendaki hingga sengaja dites di situasi berbahaya oleh pasangan. Sebut saja kisah seorang gadis yang diunggah oleh akun @gratefulforthegym di TikTok. 

Video pendek unggahan akun tersebut menunjukkan seorang gadis menangis sambil berjalan menuruni gunung setelah ditinggalkan pasangan kencan yang baru pertama ditemuinya. Dirinya menyesal kenapa mau saja diajak orang yang baru dikenalnya melalui internet.

"Ini Sabtu terburuk bagiku, harusnya tiduran saja di rumah dari pada kayak gini (naik gunung dan ditinggalkan oleh pasangan kencannya)," ungkap gadis yang tidak disebutkan namanya.

Beberapa video lain bahkan mencapai jutaan penonton, menggambarkan situasi di mana seseorang ditinggalkan sendirian di jalur pegunungan tanpa bantuan. Fenomena ini memicu diskusi luas tentang red flag dalam hubungan, terutama terkait kepercayaan dan keamanan.

Lebih dari Sekadar Tren Kencan

Bruce Y Lee M.D, M.B.A., seorang pakar psikologi menyebutkan bahwa Alpine divorce bukanlah sebuah pilihan bijak untuk mengakhiri sebuah hubungan. Yang ada hal tersebut hanya akan menyakiti orang lain dan menempatkan korban dalam bahaya.

Sebut saja jika si korban tidak memiliki pengalaman hiking atau mengenal area yang dikunjungi. Menurutnya dalam banyak kasus, tindakan tersebut mencerminkan kurangnya empati, kontrol, atau bahkan manipulasi dalam hubungan.

Alpine divorce juga sering dikaitkan dengan perilaku menghindari konflik, alih-alih mengakhiri hubungan secara dewasa, pelaku memilih cara ekstrem yang berisiko bagi keselamatan pasangan.

"Kalau sekedar melampiaskan emosi, bisa dialihkan ke yang lainnya. Atur emosi anda dan temukan solusi cerdas yang tidak menyakiti orang lain," tulisnya dalam sebuah opini dalam laman Psychology Today (2/4/2026).

Fenomena #AlpineDivorce ini menjadi pengingat penting bahwa aktivitas romantis seperti hiking atau traveling tidak selalu aman jika dilakukan dengan orang yang tidak dapat dipercaya. Kesadaran, komunikasi, dan kesiapan diri sangat penting, terutama saat berada di lingkungan berisiko tinggi. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow