Hajat Bumi "Seni Lintas Perbatasan", Cara Warga Lembur Sumanding Wetan Kota Banjar Lestarikan Warisan Leluhur

RT 03 RW 22 Lembur Sumanding Wetan, Banjar, gelar Hajat Bumi ketiga dengan konsep Seni Lintas Perbatasan. Budayawan dari Dieng, Magelang, hingga Yogya hadir. Rangkaian acara tiga hari meliputi Seni An

Juli 4, 2026 - 16:39
Hajat Bumi "Seni Lintas Perbatasan", Cara Warga Lembur Sumanding Wetan Kota Banjar Lestarikan Warisan Leluhur

BANJAR - TIMESINDONESIA, BANJAR – Lingkungan RT 03 RW 22 Lembur Sumanding Wetan kembali berdenyut dengan nuansa budaya yang kental. Untuk ketiga kalinya, warga setempat menggelar tradisi Hajat Bumi. Namun, ada yang berbeda pada perhelatan kali ini. Pihak panitia mengemas acara dengan lebih meriah melalu konsep "Seni Lintas Perbatasan".

Ketua Panitia Hajat Bumi, Romo Sarif, mengungkapkan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah bentuk tasyakur binikmat atas segala berkah yang diterima masyarakat dari bumi tempat mereka berpijak. 

"Apa yang kita pijak selama hidup kita, apa yang kita makan selama hidup kita berada di tanah pertiwi ini, ya kita harus disyukuri," ujar Romo Sarif disela kegiatan, Sabtu (4/7/2026)

Jalin Silaturahmi Lewat Seni Lintas Perbatasan

Berbeda dengan dua gelaran sebelumnya, Hajat Bumi yang ketiga ini dibuat lebih gebyar. Panitia sengaja mengundang para budayawan dari luar daerah, seperti dari Dieng, Magelang, hingga Yogyakarta, yang telah hadir untuk memeriahkan acara yang berlangsung hingga besok Minggu.

Tujuan utama dari kehadiran para seniman lintas daerah ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi antar-budayawan sekaligus mengenalkan kekayaan seni budaya kepada masyarakat Banjar.

Rangkaian Acara Tiga Hari Berturut-turut

Kegiatan Hajat Bumi ini diisi oleh berbagai pertunjukan seni tradisional yang padat mulai dari malam pembukaan hingga hari terakhir. Berikut adalah rangkaian acaranya:

• Malam Pembukaan: Dimeriahkan oleh penampilan Tari Jaipong, pertunjukan Pencak Silat, dan suguhan musik Orkestra dari Sang Manara.
• Hari Kedua (Pagi - Siang): Diisi dengan penampilan pencak silat dari PSSI Kota Banjar hingga pukul 11.00 WIB.
• Pukul 13.00 hingga 17.00 WIB, warga disuguhkan Seni Angguk yang didatangkan langsung dari kawasan Gunung Dieng, Jawa Tengah.
• Acara dilanjutkan dengan Debus dan penampilan tarian dari anak-anak setempat, yang kemudian disusul oleh pertunjukan utama Kesenian Ronggeng.
• Hari Ketiga (Minggu Sore): Sebagai penutup rangkaian acara, masyarakat akan dihibur oleh pertunjukan Ebeg Kuda Lumping

Harapan Regenerasi dan Pesan Leluhur

Saat ditanya mengenai alasan pemilihan lokasi, Romo Sarif menegaskan bahwa tempat ini dipilih karena mereka adalah warga asli daerah tersebut yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga tanah kelahiran.

Ia berharap agar kegiatan ini dapat menjadi jembatan bagi generasi muda agar tidak melupakan akar sejarah dan budayanya sendiri. 

"Harapannya itu ya istilahnya masyarakat generasi penerus supaya tidak buta dengan sejarah, tidak buta dengan budaya, dan tidak buta dengan apa yang diwariskan oleh leluhur kita. Intinya ke situ," tegasnya. 

Menutup keterangannya, Romo Sarif juga menyisipkan pesan filosofis dalam bahasa Sunda mengenai pentingnya menjaga warisan leluhur (tetenong) yang sarat akan nilai-nilai kehidupan (ajen-inajen). Sudah menjadi kewajiban generasi sekarang (katebleuhan) untuk merawat, mengembangkan, dan memahami makna mendalam di balik tradisi yang ditinggalkan oleh para karuhun (nenek moyang). (Susi/TI)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow