Gerai KDKMP Kota Batu Belum Beroperasi, Manajemen jadi Penentu
Peresmian empat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kota Batu belum diikuti dengan dimulainya aktivitas pelayanan.
BATU - Peresmian empat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kota Batu belum diikuti dengan dimulainya aktivitas pelayanan. Meski bangunan gerai di sejumlah wilayah telah rampung, operasional koperasi masih tertunda karena menunggu kesiapan manajemen dan fasilitas pendukung.
Empat KDKMP yang telah diresmikan berada di Kelurahan Dadaprejo, Kelurahan Temas, Desa Torongrejo, dan Desa Sumberejo. Di Dadaprejo dan Temas, bangunan gerai sudah berdiri, tetapi hingga kini belum melayani masyarakat.
Ketua KDKMP Dadaprejo, Rio Sarwo Wibisono, mengatakan koperasi belum dapat dibuka karena masih menunggu arahan dari PT Agrinas Pangan Nusantara sebagai pengelola utama program tersebut.
"Untuk operasional gerai masih menunggu instruksi Agrinas. Kami juga menunggu manajer yang saat ini masih mengikuti pendidikan, termasuk proses perekrutan karyawan dari warga lokal," katanya, Selasa (28/7/2026).
Selain menunggu kesiapan sumber daya manusia, kata Rio, sejumlah sarana penunjang juga belum lengkap. Pendingin ruangan (AC), sistem operasional, hingga beberapa perangkat lainnya masih dalam proses pengadaan oleh vendor.
"Kelengkapan prasarana masih berproses. Informasinya sebelum akhir Agustus semuanya sudah bisa dioperasikan," ujarnya.
Rio memperkirakan gerai KDKMP Dadaprejo mulai beroperasi pada Agustus mendatang apabila seluruh kebutuhan operasional telah terpenuhi.
KDKMP Dadaprejo juga menjadi koperasi pertama di Kota Batu yang menerima bantuan kendaraan operasional berupa truk dari pemerintah pusat.
"Nantinya koperasi tersebut akan melayani penjualan sembako, menjadi subpangkalan LPG, serta memasok sejumlah produk pangan kering untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), seperti roti produksi UMKM binaan, aneka kacang-kacangan, dan susu UHT," bebernya.
Di sisi lain, keberhasilan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dinilai tidak hanya bergantung pada besarnya modal maupun lokasi usaha. Pengusaha asal Kecamatan Junrejo, Ludi Tanarto, menilai kualitas manajemen menjadi penentu utama agar koperasi mampu tumbuh sehat dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Wakil Ketua II DPRD Kota Batu itu menegaskan pandangannya lebih didasarkan pada pengalamannya sebagai pelaku usaha daripada kapasitasnya sebagai anggota DPRD. Menurutnya, kekuatan sebuah usaha selalu bertumpu pada manajemen yang profesional.
"Kalau saya melihatnya lebih banyak sebagai seorang pedagang atau pelaku bisnis. Intinya, kekuatan sebuah bisnis, baik itu koperasi, toko, maupun usaha lainnya, terletak pada manajemennya," ujarnya.
Menurutnya, saat ini publik belum dapat menilai efektivitas Koperasi Merah Putih karena kualitas manajemen yang akan menjalankan usaha tersebut masih belum terlihat.
"Kita juga belum melihat seperti apa kekuatan manajemen di Koperasi Merah Putih nanti," katanya.
Ia berharap koperasi dipimpin oleh manajer yang memiliki kemampuan mengelola usaha sekaligus visi bisnis yang kuat sehingga mampu mengembangkan koperasi secara berkelanjutan.
"Syukur-syukur jika nanti mendapatkan manajer yang memang memiliki kapabilitas untuk menggerakkan koperasi, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya. Namun, kalau tidak menemukan manajer yang memiliki visi bisnis, saya kok pesimis," ungkapnya.
Politisi PKS itu juga menyoroti beredarnya berbagai informasi mengenai Koperasi Merah Putih di media sosial yang dinilainya berpotensi menimbulkan keresahan apabila tidak disertai penjelasan resmi dari pemerintah.
"Yang ramai di media sosial itu saya pikir juga cukup meresahkan masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu membuat semacam pernyataan atau siaran resmi agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas," tegasnya.
Menurut dia, potensi Koperasi Merah Putih sebenarnya sangat besar untuk berkembang. Namun, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh lokasi maupun besarnya modal, melainkan kemampuan mengelola bisnis secara efektif.
"Dalam berdagang itu bukan hanya soal tempat dan modal. Yang terpenting adalah bagaimana manajemennya benar-benar efektif. Lokasinya boleh saja berada di pinggir perdesaan, tetapi kalau manajemennya bagus, bisa memanfaatkan penjualan secara daring dan berbagai peluang lainnya," jelasnya.
Karena itu, Ludi kembali menegaskan bahwa keberadaan manajer yang memiliki kemampuan bisnis menjadi kunci agar program Koperasi Merah Putih tidak hanya berhenti sebagai proyek pembangunan fisik, tetapi mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
"Makanya dibutuhkan manajer yang punya visi bisnis dan kemampuan berdagang yang luar biasa," pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?