Gapai Langit dengan Doa, Tangis Jemaah Haji Padang Pecah saat Menata Batin Menuju Arafah

Bagi Jemaah haji, Arafah bukan sekadar titik lokasi di peta, melainkan tempat di mana manusia datang membawa seluruh penyesalan, dosa, harapan dan doa terbaik.

Mei 25, 2026 - 11:01
Gapai Langit dengan Doa, Tangis Jemaah Haji Padang Pecah saat Menata Batin Menuju Arafah

PADANG - Suasana haru dan khusyuk menyelimuti salah satu hotel kawasan Aziziyah, Makkah, Minggu (24/5/2026). Ratusan jemaah haji Kloter 14 Embarkasi Padang tampak tak kuasa menahan tangis.

Air mata para tamu Allah ini tumpah saat mengikuti sesi bimbingan rohani jelang keberangkatan menuju Padang Arafah untuk pelaksanaan wukuf.

Di saat itulah, terasa betul bahwa momen Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) yang sudah di depan mata adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual seumur hidup mereka. 

Di sudut-sudut ruangan, tampak pemandangan menyentuh hati: sebagian jemaah sibuk melipat kain ihram dengan penuh rasa hormat, sebagian lain menggenggam buku doa kecil sambil melantunkan zikir dengan suara lirih.

Ada pula yang menatap jauh ke depan, membayangkan sebentar lagi akan berdiri di hamparan luas Arafah, menyatu dengan jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia dalam satu panggilan suci.

“Armuzna bukan sekadar perjalanan fisik. Di sanalah kita mengetuk pintu langit,” ujar Pembimbing Ibadah Kloter 14, Tri Andriani Djusair, memecah keheningan malam itu.

Kalimat sederhana namun begitu dalam maknanya itu seketika membuat suasana hening. Mata para jemaah tertuju ke depan, dan air mata pun mulai jatuh membasahi pipi tanpa terasa.

Bagi mereka, Arafah bukan sekadar titik lokasi di peta, melainkan tempat di mana manusia datang membawa seluruh penyesalan, dosa, harapan, dan doa-doa terbaik yang disimpan bertahun-tahun lamanya. 

Tri Andriani kembali mengingatkan, bahwa Wukuf di Arafah adalah momentum paling sakral di mana seluruh perbedaan jabatan, harta, dan derajat di dunia runtuh seketika.

“Di Padang Arafah nanti, jutaan manusia berkumpul dengan pakaian yang sama. Semua setara. Memohon ampun dengan air mata penyesalan, mengetuk pintu langit dengan doa terbaik,” ujar Tri Andriani dengan suara bergetar menahan haru.

Penyucian Hati: Kunci Doa Dikabulkan

Kemenhaj Sumbar

Persiapan malam itu bukan hanya merapikan fisik melalui amalan sunnah seperti memotong kuku atau mandi sunnah, melainkan lebih kepada penyucian batin.

Jemaah dipandu untuk melafazkan istighfar secara berjamaah, disusul syahadat, selawat, dan zikir, guna membersihkan hati dari segala noda agar tidak menjadi pembatas dikabulkannya doa nanti.

“Bersihkan hati sebelum melafazkan niat. Jangan hanya tubuh yang bersih, tetapi hati juga harus lapang dan ikhlas,” pesan Tri Andriani.

Penting juga disampaikan edukasi khusus bagi jemaah perempuan yang sedang mengalami uzur syar’i atau haid.

Tri Andriani menegaskan bahwa kondisi tersebut sama sekali tidak mengurangi hak mereka untuk meraih pahala haji yang mabrur.

“Mereka tetap bisa berniat dari hotel, dengan batasan tidak melaksanakan salat dan thawaf. Pahalanya tetap sama besarnya di sisi Allah SWT,” jelasnya.

Ketika lantunan 'Labbaikallahumma labbaik' mulai menggema memenuhi ruangan, atmosfer berubah menjadi lebih sakral. Sejak kalimat itu terucap, seluruh larangan ihram resmi berlaku.

Jemaah diminta ketat menjaga lisan dari perkataan kotor (rafath), menjauhi perbuatan maksiat (fusuq) dan menahan diri sepenuhnya dari pertengkaran (jidal).

Di fase krusial ini, petugas juga mengimbau agar jemaah saling bahu-membahu dan saling menjaga, khususnya untuk membantu para jemaah lansia agar tetap aman dan nyaman sepanjang perjalanan.

Dengan hati yang sudah ditata, air mata yang sudah tumpah, dan niat yang sudah bulat, kini jemaah Kloter PDG 14 Padang siap melangkah keluar menuju bus maktab.

Mereka siap berdiri di hadapan Allah di Padang Arafah, siap mengetuk pintu langit dengan sejuta harap dan ampunan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow