Gandeng TIMES Indonesia, UWG Malang Cetak Jurnalis Kritis, Obyektif dan Berintegritas
Universitas Widya Gama/ UWG Malang berkolaborasi dengan TIMES Indonesia sukses menggelar pelatihan jurnalistik dengan tema "Membangun Jurnalisme Muda yang Kritis, Objektif dan Berintegritas di Era Dig
MALANG - Universitas Widya Gama/ UWG Malang berkolaborasi dengan TIMES Indonesia sukses menggelar pelatihan jurnalistik dengan tema "Membangun Jurnalisme Muda yang Kritis, Objektif dan Berintegritas di Era Digital", Rabu (20/5/2026).
Diikuti oleh mahasiswa dan sivitas akademika kegiatan ini bertujuan membekali generasi muda kemampuan menulis yang benar serta karakter kuat agar mampu berkarya dan menyebarkan informasi yang bermanfaat di tengah derasnya arus informasi.
Pelatihan menghadirkan para narasumber ahli dan praktisi berpengalaman langsung dari TIMES Indonesia serta tenaga pengajar dari kampus, Yuli Trijanto selaku Direktur Marketing TIMES Indonesia, Imadudin Muhammad selaku Editor TIMES Indonesia, Siti Khodija selaku General Manager TIMES Indonesia, serta Rangga Pahlevi Putra, S.Pd., M.T. dari Fakultas Sains dan Teknologi Informasi UWG Malang.
Materi pertama disampaikan oleh Yuli Trijanto yang membahas dasar-dasar jurnalistik dan nilai berita. Ia menegaskan bahwa jurnalistik bukan sekadar menulis atau menyampaikan informasi, melainkan punya tanggung jawab besar kepada masyarakat.
Ada tiga prinsip utama yang wajib dipegang teguh, yaitu bersifat independen dan akurat, selalu melakukan verifikasi atau pengecekan fakta, serta siap bertanggung jawab atas setiap tulisan yang diterbitkan.
"Selalu ingat, sesuatu yang terdengar bagus atau positif tidak lebih penting daripada kebenaran. Meskipun informasinya terlihat menguntungkan, kalau tidak jelas asal-usulnya dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya, jangan pernah dijadikan berita," tegas Yuli.
Ia juga menjelaskan bahwa suatu peristiwa layak dijadikan berita jika memiliki nilai-nilai tertentu, di antaranya kedekatan dengan kehidupan masyarakat, memiliki dampak luas, bersifat aktual atau baru terjadi, serta berkaitan dengan tokoh atau hal yang dikenal banyak orang. Selain itu, seluruh kegiatan jurnalistik di Indonesia juga berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pers, serta berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik.
Materi kedua membahas seputar seni menulis berita dan teknik penyusunan, disampaikan oleh Imadudin Muhammad. Ia menjelaskan bahwa struktur yang paling umum dan efektif dipakai adalah Piramida Terbalik, di mana informasi paling penting diletakkan di bagian paling awal atau teras berita yang sudah memuat semua unsur 5W+1H. Selanjutnya bagian tengah berisi penjelasan rinci dan data pendukung, sedangkan bagian akhir berisi informasi tambahan yang bisa dihilangkan jika ada batasan ruang tanpa mengurangi makna inti berita.
"Ada lima langkah mudah yang bisa dipakai saat menulis berita, yaitu tentukan inti informasi, lengkapi dengan data dan penjelasan, susun paragraf pembuka yang padat, lakukan penyuntingan atau perbaikan, serta pastikan bahasanya sesuai kaidah," jelas Imadudin.
Bahasa yang dipakai dalam berita haruslah sederhana, lugas, singkat, padat, dan mudah dipahami semua orang. Lebih penting lagi, tulisan berita wajib bersifat objektif, tidak boleh dicampuri pendapat, perasaan, atau pandangan pribadi penulis, serta disajikan secara seimbang dari berbagai sisi.
Sementara itu, materi ketiga dibawakan oleh Siti Hodija yang membahas peran jurnalis serta etika di era digital. Ia mengingatkan bahwa tugas utama seorang jurnalis adalah mencari, menerima, menulis, dan menyampaikan informasi berdasarkan fakta yang sudah dipastikan kebenarannya. Di zaman sekarang di mana informasi menyebar sangat cepat lewat gawai dan media sosial, tantangan terbesar adalah banyaknya berita tidak benar yang bisa memicu kesalahpahaman.
"Oleh karena itu, jurnalis muda harus memiliki kemampuan menyaring informasi, tetap bersikap kritis namun objektif, serta selalu menjaga integritas. Tulisan yang dibuat tidak hanya harus benar, tapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat dan menjaga kepercayaan publik terhadap media," ujar Siti Khodija.
Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya pandai menulis, tapi juga memiliki prinsip yang kuat, mampu menjadi penyampai informasi yang dapat dipercaya, serta berkarya secara positif demi kemajuan jurnalistik di Indonesia. (*)
Apa Reaksi Anda?