Finalisasi Rute Baru Trans Jatim Koridor Malang Ditunda
Rencana pengoperasian Bus Trans Jatim Koridor Malang Raya belum memasuki tahap final.
MALANG - Rencana pengoperasian Bus Trans Jatim Koridor Malang Raya belum memasuki tahap final. Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur memutuskan menunda penetapan rute setelah menerima berbagai masukan dari aliansi pengemudi angkutan umum yang meminta adanya kajian lebih mendalam terkait dampak sosial dan ekonomi kehadiran transportasi massal tersebut.
Penundaan tersebut dilakukan agar proses penentuan koridor tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis pelayanan transportasi, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan mata pencaharian para sopir angkutan lokal yang selama ini melayani masyarakat di wilayah Malang Raya.
Kepala Seksi Sarana Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jawa Timur, Cito Eko Yuly Saputro mengatakan, hasil pembahasan sebelumnya belum dapat difinalisasi karena perwakilan aliansi angkutan meminta waktu untuk melakukan pembahasan internal mengenai potensi dampak yang akan muncul setelah Trans Jatim beroperasi.
“Pada intinya, hasil finalisasi tadi minta ditunda dulu, minta dikaji ulang oleh teman-teman aliansi terkait dampaknya. Multiplier effect-nya memang sangat bermanfaat untuk masyarakat, tetapi teman-teman juga meminta kejelasan dampaknya terhadap anggota seperti apa. Kami memahami mereka membutuhkan waktu untuk rapat internal dan kami akan memberikan kesempatan tersebut,” ujar Cito, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, Dishub Jatim tidak ingin mengambil keputusan secara sepihak. Karena itu, seluruh aspirasi dari pelaku transportasi akan diakomodasi agar kebijakan yang diambil nantinya mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus meminimalkan dampak terhadap angkutan yang telah lebih dahulu beroperasi.
Sebagai tindak lanjut, Dishub Jatim akan menggelar rapat koordinasi lanjutan dengan melibatkan seluruh organisasi angkutan di Kota Malang dan Malang Raya. Selain itu, DPRD Provinsi Jawa Timur, DPRD Kota Malang, serta instansi terkait juga akan diundang untuk ikut memberikan masukan sehingga keputusan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kepentingan semua pihak.
“Langkah selanjutnya adalah rapat koordinasi lanjutan. Bukan hanya dua aliansi yang kami undang karena itu tidak adil. Semua aliansi angkutan di Kota Malang akan kami undang. DPRD Provinsi maupun DPRD Kota Malang juga tetap kami libatkan dalam pembahasan,” ungkapnya.
Cito menjelaskan, salah satu kekhawatiran utama yang disampaikan para pengemudi adalah potensi berkurangnya pendapatan akibat hadirnya layanan Bus Trans Jatim. Menanggapi hal itu, Dishub Jatim menegaskan bahwa konsep pengembangan transportasi massal tidak semata-mata menghadirkan moda baru, tetapi juga diharapkan menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas (multiplier effect), seperti efisiensi biaya perjalanan masyarakat, pengurangan kemacetan, hingga peningkatan aktivitas ekonomi di kawasan yang dilalui koridor.
Ia mencontohkan keberhasilan operasional Bus Trans Jatim di kawasan Gerbangkertosusila yang dinilai mampu meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Di sisi lain, Dishub Jatim juga terus mematangkan berbagai aspek teknis sebelum layanan resmi dioperasikan. Untuk wilayah Kabupaten Malang, sedikitnya 40 titik pemberhentian telah disurvei dengan mempertimbangkan kawasan permukiman padat dan potensi jumlah penumpang.
Sementara itu, penentuan lokasi halte di wilayah Kota Malang masih menunggu hasil koordinasi dan kesepakatan mengenai trayek yang akan dilalui. Langkah ini dilakukan agar keberadaan halte tidak menimbulkan konflik dengan jalur angkutan yang telah ada.
Selain pembahasan trayek, Dishub Jatim juga mengkaji kemungkinan memanfaatkan ruas jalan tol sebagai bagian dari koridor Trans Jatim Malang Raya. Skema tersebut dinilai mampu menjaga ketepatan waktu perjalanan, meningkatkan kenyamanan penumpang, sekaligus menghindari kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama.
“Jika diterapkan, penggunaan jalan tol diharapkan dapat mempercepat konektivitas antardaerah di Malang Raya, termasuk menghubungkan kawasan permukiman, pusat aktivitas masyarakat, hingga Terminal Arjosari sebagai salah satu simpul transportasi utama,” tandasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?